Tantangan Dalam Pengembangan Bahasa Indonesia
Posted by
Bulo'a
, 2009-02-26 at 11:13 PM, in
Labels:
Materi Pendidikan
BAHASA Indonesia adalah se¬buah unicum dalam jajaran baha¬sa-bahasa dunia maupun dalam sejarah bangsa Indonesia. Di ne¬gara-negara berkembang dewasa ini sulit dicari bahasa nasional selain bahasa Indonesia, yang mampu tegak dan berkembang secara alamiah dan diterima seca¬ra ikhlas sebagai bahasa persatu¬an oleh semua suku bangsa, yang berlain-lainan bahasa dan kebu¬dayaannya.
Inilah salah satu pres¬tasi para pelopor kemerdekaan pada tahun 1928, yang mungkin tidak akan dapat dicapai oleh generasi penerus sekarang ini. Pasti keadaan negara kita dalam hubungan dengan bahasa tidak seperti sekarang ini. bila baru sesudah merdeka kita membahas soal bahasa nasional. Bandingkan saja dengan keadaan negara-nega¬ra berkembang lain. yang sesudah merdeka baru memikirkan masa¬lah bahasa nasional. Banyak di antaranya yang tidak berhasil. ka¬rena terbukti bahwa bahasa mernpunyai aspek sosial politik yang cukup rumit.
Karena sejak awalnya berfungsi sebagai penyatu bangsa dan de¬ngan demikian sekaligus menjadi lambang identitas bangsa, dalam perjalanan sejarahnya bahasa In¬donesia tidak hanya sekadar me¬rupakan alat komunikasi dalam masyarakat beraneka bahasa saja, .melainkan juga merupakan pembentuk sikap budaya dan penentu nilai-nilai budaya bangsa yang bersatu. Jadi penggunaan bahasa bukan hanya menyangkut kemahiran bahasa saja, melainkan pengungkapan perilaku bangsa yang lebih mengunggulkan persatuan dan kebersamaan daripada kepentingan pribadi atau kelompok sendiri.Lebih dari itu penguasaan bahasa Indonesia juga menjadi tolak ukur kedewasaan dan kematangan prilaku masyarakat.
Di kalangan orang berseko¬lah dan terpelajar, kemampuan berbahasa Indonesia tidak man¬tap, Sangat mencolok kenyataan, bahwa banyak di antara kita tidak dapat mengembangkan pengeta¬huan dan keterampilan yang di¬peroleh di jenjang pendidikan permulaan untuk keperluan-ke¬perluan lanjut, karena kegairahan membaca rendah sekali dan sama sekali tidak ada kebiasaan meru¬juk pada bahan-bahan referensi, seperti kamus, ensiklopedia, atau buku tata bahasa. Sebuah contoh konkret ialah banyaknya kesalah¬an ejaan di berbagai kalangan masyarakat, karena orang tidak pernah berusaha membuka-buka Pedoman Ejaan Bahasa Indone¬sia Yang Disempumakan. Ke¬nyataan ini membuat banyak kai¬dah bahasa menjadi labil, karena penutur tidak menguasainya de¬ngan sungguh-sungguh dan tidak mampu menerapkannya; padahal hubungan timbal-balik yang erat antara kaidah bahasa dan penutur bahasa tidak dapat diabaikan da¬lam usaha-usaha pengembangan bahasa,
tersebut di atas sebenarnya tidak lain daripada cermin tidak berakarnya kebiasa¬an membaca dan menulis dalam masyarakat. Bila ada, kebiasaan itu hanyalah terbatas pada lapisan tertentu di kota-kota tertentu di negeri kita ini. Pertanda paling konkret dalam bentuk lain ialah, tidak berkembangnya dunia per¬bukuan kita. Perhatikan saja, betapa kecil perbandingan antara buku yang terbit dengan jumlah penduduk di negeri yang besar ini. Pembaca pun dapat mengeta¬hui hal itu dari keluhan para penerbit akhir-akhir ini tentang merosotnya minat beli buku da¬lam masyarakat. Memang hal itu kembali selalu pada kenyataan, "yang mau tidak mampu, yang mampu tidak mau membeli bu¬ku". Namun akibatnya yang ga¬wat bagi masa depan bangsa kita, khususnya dalam bidang pendi¬dikan, teknologi, ilmu pengetahu¬an, dan kebudayaan, kiranya kita pahami semua.
Di samping ketiga tantangan dari dalam tersebut, ada lagi an¬caman dari luar, yang selama ini tidak diperhatikan orang, yakni pengaruh buruk bahasa Inggris. Banyak salah paham terjadi me¬ngenai fungsi bahasa dunia itu di negeri kita. Pengaruhnya yang baik bagi bangsa dan bahasa kita tidak diingkari. Bila kita ingin maju dan ingin mengambil man¬faat dan pengalaman dari kebu¬dayaan dan teknologi internasio¬nal, kita harus menguasai bahasa Inggris secara sungguh-sungguh.
Sayang sekali, terlalu banyak orang yang belum mahir berbaha¬sa asing ini merasa sangat mampu dan langsung menerapkan serta mempergunakannya secara keli¬ru. Ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang menggelikan justru muncul dalam penggunaan baha¬sa publik; dan inilah yang me¬nyebar dan meresap di kalangan generasi muda, sehingga gagallah semua yang diajarkan para guru di sekolah'
Pengaruh buruk lain nampak dalam sikap budaya yang lazim disebut snobisme: orang yang bi¬sa berbahasa Inggris (walaupun jelek) menganggap diri lebih dari orang yang tidak tahu bahasa Inggris. Pengaruh ini bukan ha¬nya menulari anak-anak dan re¬maja melalui orangtua mereka, yang dihinggapi sikap semacam itu, melainkan juga melanda para cendekiawan yang sering mem¬bumbui percakapannya dengan kata-kata Inggris yang diperguna¬kan secara salah, karena makna dan gramatikanya hanya diketa¬hui setengah-setengah, dan dila¬falkan secara menggelikan. Para cendekiawan yang seharusnya memberi teladan itu tentunya me¬mahami, bahwa di manapun di dunia ini, kepribadian bangsa yang kuat ditandai oleh kebang¬gaan mempergunakan bahasa sendiri secara cermat dan rapi.
Tidak ada gunanya kita membahas masalah peristi¬lahan, metode mengajar bahasa, penerjemahan, dan sebagainya, kalau hal-hal yang mendasar tadi belum diatasi. Perhatian kita yang terlampau berlebihan terha¬dap hal-hal yang "supra-struktu¬ral" semacam itu, mengandung bahaya. bahwa nantinya bahasa Indonesia hanya akan menjadi medium para elite, dan kembali¬lah bahasa Indonesia ke status "Melayu Tinggi" seperti beberapa puluh tahun yang lalu.
Tantangan-tantangan tadi me¬mang tidak dapat dihindarkan dan perubahan dalam segala as¬pek kehidupan kita pasti terjadi, tetapi kita toh harus menjawab pertanyaan, "dalam menghadapi masa . depan, kita ingin menjadi subyek atau harus pasrah menja¬di obyek dari nasib kita sendiri?
Untunglah dewasa ini bahasa Indonesia sudah mempunyai mo¬dal yang sangat besar, yaitu ke¬nyataan, bahwa:
1. status dan fungsinya tidak di¬persoalkan orang lagi
2. bahasa persatuan kita itu su¬dah meluas ke segala aspek kehidupan
3.sebagai alat komunikasi untuk segala aspek kehidupan ma¬syarakat, bahasa kita itu sudah menampilkan secara meyakin¬kan daya ekspresi dan kelu¬wesannya, baik dalam gramati¬ka maupun dalam kosa kata¬nya - tidak kalah dengan ba¬hasa-bahasa modern lain. Adalah tugas kita bersama Un-
tuk menjadikannya bahasa kebu¬dayaan bagi bangsa yang berkep¬ribadian kuat.
Tantangan Seorang Guru
Posted by
Bulo'a
, at 11:11 PM, in
Labels:
Materi Pendidikan
Pada masa sekarang ini lebih banyak masalah dan tuntutan yang dihadapi seorang guru. Bisa kita lihat pada cara mergajar mereka yang sekarang ini lebih menekankan pada ketuntasan materi pelajaran, sehingga kurang melihat pada pembentukan sikap, atau perilaku murid. 'Mengajar' lebih didahulukan, bukan 'mendidik' siswa itu sendiri."
Tuntutan hidup yang tinggi menyebabkan ideologi guru menjadi tidak jelas. Akibatnya mereka sibuk mencari nafkah tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau idealis, mereka akan menjadi guru yang baik tetapi keluarga bisa morat-marit.
Di samping itu, sistem pengajaran sekarang juga berbeda dengan masa lalu. Sekarang ini menilai
seorang siswa hanya pada sisi kecerdasan saja. Maka banyak murid dan guru yang menjadi stress karena faktor keterampilan dan moral yang baik tidak dipakai sebagai dasar penilaian kelulusan.
Kriteria guru yang baik ialah:
1.Memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Untuk itu mereka harus menguasai materi yang diajarkan sekaligus menguasai metode penyajian yang efektif, efisien, dan menyenangkan.
2. Mampu membuat murid belajar dan sadar akan tugasnya sebagai siswa .
3. Memberikan inspirasi dan motivasi kepada siswa sehingga dapat dijadikan panutan dalam segala hal seperti tingkah laku, cara bicara, dan berpikir.
4.Bisa mengembangkan potensi yang ada pada anak didik, bukan membentuk seperti yang kita mau,
dan tidak berusaha memaksakan kehendak.
5. Mampu melakukan Pembaruan – pembaruan sesuai tuntutan zaman, dan selalu berpikir ke masa depan tanpa melupakan yang telah lewat dan masa sekarang.
6. Aktif mengikuti perkembangan IPTEK.
Bridge to the Smart Child and Exeed
Posted by
Bulo'a
, 2009-02-24 at 10:37 PM, in
Labels:
English Article
If at epoch ahead endow the estae which do not used up during seven generation can make the parent feel the peace of child future will its, hence these days that matter have been replaced a education. Estae at one time can used up, but knowledge and skill obtained education will never lose. Therefore, a lot of old fellow ready to hold the bag any kind of, so long as its child obtain;get the good education. And, if can, after the time/date of early.
Speak the insufficient child education problem in fact limited to forging cognate ability, knowledge heaping, or simply improving potency of intelegensi or Intellegence Quotient ( IQ). Socialization And forming of Emotional Intelligence ( EI) become the something else which must diemban by education systems. As respects to values cultivation accompanied the understanding of ethic kindness so that especial target instruction and education till a self-supporting and adult human being can be reached
Thereby in learning a child not merely memorizing, considering, and understanding theory but expected also application able to all that in real life. In term UNESCO learn that is to know, to do, to be, and to live together.
EDUCATION PARADIGM
Antarina SF Amir, Managing Director High / scope Indonesia say that all education form, good that informal and also formal have to be drawn up to educate a individual in making a choice and ugly based for knowledge got at school, society, family, friend, or from literature. So that thereby adulthood and independence a individual can be existed.
Farther He explain that there is two big paradigm exist in in the world of education, first paradigm behavioristik which see that process learn is like behaviour, become must be done repeatedly until that human being able to, and paradigm konstruktivis saying that somebody can develop;build its own knowledge and non formed by others.
" If systems first, we learn that its teacher stand up and explain, nonstop given the practice. If can follow what teacher word mean you have a gift for the. Result from this theory is high academic achievement, test the high score, but he/she become the professional which skilled worker. Later;Then people start to bolt the, people have started to change that learning is concerning investigation and enquire. Become the child have a gift for theoritical of this study is productive and creative. And its end result become the inventor, creative desainer in the field of science, art and technological, becoming leader which inovatif and become the entrepreneur," say Antarina
this paradigm Konstruktivis later;then open the new discourse about way of learning democratic whereabout teacher and pupil can each other being happened the process learn and teach the. Teacher non single handle of knowledge authority in class, child can be given the independence to learn by exploiting immeasurable source learn adequate, given the firmness and motivate.