SUARA HATI
this site the web

Recent Photos

image
image
image
Showing posts with label Materi Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Materi Pendidikan. Show all posts

Anak Tidak Cerdas

Oleh : Irwan Pachrozi Ratu Bangsawan

Anda punya anak tidak cerdas? Siapa yang berani-beraninya mengatakan bahwa anak Anda tidak cerdas? Guru anak Andakah? Ataukah pemerintah? Ataukah Mendiknas?

Sungguh merupakan sebuah aib bagi keluarga bila anak yang kita cintai dan kasihi ternyata tidak naik kelas atau tidak lulus ujian nasional. Dunia rasanya mau runtuh. Kasihan si buah hati. Sedih dan malu harus mereka tanggung.

Kasus anak didik yang tidak lulus ujian hingga mencapai angka 100% di suatu sekolah, bukanlah gosip belaka. Dalam kurun lima tahun terakhir, hampir tiap tahun pelaksanaan ujian nasional, ada-ada saja sekolah yang mengalami nasib apes seperti tersebut di depan. Padahal, para guru telah membanting tulang memeras keringat, kaki menjadi kepala dan kepala entah di mana.

Ada apa dengan dunia pendidikan kita? Kok bisa ya kerja keras guru tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan? (Ya, kok bisa, ya?) Apakah kualitas guru sudah sedemikian rendah sehingga tidak mampu membuat para siswa mereka tersenyum sumringah karena lulus ujian nasional? Entahlah!!

Konon, salah satu penyebab banyaknya siswa yang tidak lulus ujian karena para siswa tersebut bukanlah anak yang cerdas. Karena tidak cerdas, maka mereka tidak layak dan tidak pantas untuk lulus dari almamaternya. Seorang anak baru bisa dikatakan cerdas jika ia mampu mengusai semua ilmu yang diajarkan guru, mulai dari matematika, kimia, fisika, biologi, ekonomi, sosiologi, hingga bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Singkat kata, siswa kita adalah siswa yang harus multitalenta, serba bisa dan superman (Apa nggak keblinger para siswa tersebut).
Dunia pendidikan kita harus mengadakan revolusi dalam memandang arti kecerdasan seorang anak. Teori yang diintroduksi Prof. Howard Gardner yang memperkenalkan delapan teori kecerdasan nampaknya dapat menjadi alternatif revolusi tersebut. Intisari teori ini adalah bahwa tak ada seorang anak pun yang memiliki berbagai macam kecerdasan. Kecerdasan satu orang berbeda dengan orang lain. Sepanjang seseorang tersebut mengoptimalkan potensi kecerdasannya, maka ia berhak disebut sebagai anak yang cerdas. Adapun kedelapan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kecerdasan linguistik (bahasa):

Kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kataa-kata atau bahasa. Penulis, jurnalis, penyair, orator, dan pelawak adalah contoh nyata orang yang memiliki kecerdasan linguistik. Contoh: Chairil Anwar, Soekarno, dan WS Rendra.

2. Kecerdasan logis-matematis:

Kemampuan berpikir dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Para insinyur, ekonom, dan akuntan adalah contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan ini. Contoh: Albert Enstein dan Thomas Alfa Edison

3. Kecerdasan visual-spasial:

Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan Orang yang menggunakan kecerdasan ini antara lain arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer, dan perencana strategis. Contoh: Afandi, Picaso, dan Colombus.

4. Kecerdasan musikal:

Kemampuan menggubah atau mencipta musik, dapat bernyanyi dengan baik, atau memahami dan mengapresiasi musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Contoh: Ismail Marzuki dan Iwan Fals.

5. Kecerdasan kinestetik-tubuh:

Kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini dimiliki oleh para olahragawan, seniman akting dan tari, ahli kontruksi, serta ahli bedah. Contoh: Maradona dan Charli Chaplin.

6. Kecerdasan interpersonal (sosial):

Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan perharian, memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kemampuan ini dimiliki para guru, fasilitator, pemuka agama dan politisi. Contoh Buya Hamka dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

7. Kecerdasan intrapersonal:

Kemampuan menganalisis diri dan merenungkan diri dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan terdalamnya. Kemampuan ini dimiliki oleh para filosof, penyuluh dan pembimbing. Contoh Plato.

8. Kecerdasan naturalis:

Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan tersebut secara produktif. Kemampuan ini dimiliki oleh para petani, botanis, dan ahli konservasi. Contoh: Charles Darwin.

Nah, berdasarkan teori Gardner di atas, cerdaskah anak Anda?

Catatan: Untuk lebih mendalami ide delapan macam kecerdasan Gardner tersebut di atas, Anda dapat membaca buku Accerelated Learning for the 21th Century karya Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.

Sumber : situseni.com

Pendidikan yang tak melupakan anak

Bicara tentang pendidikan, banyak orang terpaku hanya pada unsur akademis yang menjadi tolak ukur dalam kemajuan intelektualitas anak didik. Padahal ada banyak hal yang terkait di dalamnya, mulai dari perkembangan psikologis anak hingga pembentukan pribadi yang berkualitas.
Hal ini tak lepas dari definisi pendidikan itu sendiri, yaitu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Itu sebabnya, pendidikan tak hanya dilihat dari segi pendidikan formalnya saja, tetapi juga perkembangan di bidang lain yang dialami anak. Keseimbangan inilah yang menjadi kartu As bagi setiap orang untuk menjadi seorang yang berkualitas.
Pada dasarnya, setiap anak membutuhkan stimulus untuk perkembangan dirinya sebagai manusia. “Stimulus itu merupakan pendidikan yang tentu saja harus disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologi dan kebutuhan anak. Sebagai contoh, anak usia2-3 tahun belum mempunyai kemampuan motorik halus yang terkontrol. Alangkah tidak tepat bila kita memaksakan mereka untuk belajar menulis, maupun hanya membentuk huruf-huruf dasar,” ujar Anna Surti Ariani, Psi, psikolg anak dan keluarga dari Medicare Clnic.
Pasalnya, masih menurut Anna, yang dibutuhkan anak sebelum belajar membaca adalah pengenalan bentuk. Pada usia tersebut, bentuk lingkaran, segitiga, dan bujur sangkar bisa mulai diperkenalkan. Memasuki usia 3-4 tahun, bisa diajarkan yang lebih sulit, seperti bentuk segi lima atau segi enam. Mengapa demikian? Bentuk-bentuk inilah yang menjadi dasar membuat sebuah huruf. Bentuk lingkaran, misalnya, sama halnya dengan huruf “O”, bila diberi garis sebelah kiri agak panjang, akan membentuk huruf “P”, demikian seterusnya.
Hal ini diamini oleh A Budi Wiryawan, Head of Discipline santa laurensia, “Kami tidak mewajibkan anak di jenjang taman kanak-kanak (TK) untuk mampu membaca dan menulis. Di sini kami tidak tergesa-gesa dalam mendidik anak. Seperti di jenjang TK, kami lebih mempersiapkan anak mempunyai kesiapan belajar ke SD, sehingga lebih ke pembentukan mentalitas anak. Bukan mengajar baca-tulis seperti yang selama ini menjadi tolak ukur dan keinginan banyak orang tua. Di SD kelas 1, pelajaran itu baru di berikan karena secara psikologis anak sudah mampu memahaminya,” ujarnya.
Mendidik anak di usia ini hingga duduk di kelas dua atau 3 SD, masih ditekankan adalah tumbuhnya kesenangan anak untuk belajar, rasa ingin tahu, serta berani berdialog dan mempunyai rasa kepercayaan diri yang cukup untuk menyampaikan sesuatu. Pasalnya, di usia tersebut, kemampuan anak untuk menangkap hal yang bersifat abstrak dan berupa rumusan konseptual belum siap. Membawa hal-hal yang bersifat kongkret ke abstrak bukanlah hal yang mudah. Baru pada kelas 3-4 SD, mereka baru memahami arti aturan, abtraksi, dan lain-lain. Bila tidak dilakukan dengan hati-hati, justru bisa menimbulkan kesalahan konsep yang bisa berakibat fatal pada anak, yang memungkinkan anak menjadi sulit untuk mengembangkan ilmunya lebih lanjut.
Lagipulah, tamba Jeane Budiwati Tjandiagung, Head of Research & Development Santa laurensia, pendidikan yang mampu berjalan selaras dengan perkembangan psikologi anak akan memberi hasil yang lebih maksimal. Jika mendidik anak tidak sesuai dengan perkembangannya akan menjadi percuma, karena mereka justru akan merasa stres dan depresi.
SISWA SEBAGAI FOKUS
Penyelarasan antara pendidikan dan perkembangan psikologi anak tersebut tidak akan berjalan lancar bila tidak diimbangi dengan metode pembelajran yang tepat. Meski sejak dulu pendidikan di fokuskan pada anak didik, namun metode pembelajaran yang di ciptakan justru lebih fokus pada guru, di mana anak diajarkan duduk diam di dalam kelas. Seorang anak yang mampu mengikuti gurunya dengan cepat, dianggap sebagai anak berbakat.
Padahal, seperti yang diungkapkan oleh Purborini Sulistyo, Curriculum Development Head Central School, setiap anak memiliki kondisi yang berbeda. Hal ini pun menuntut adanya metode pembelajaran yang kaya dengan variasi. Sebagai gambaran, ada anak yang lebih peka terhadaphal-hal yang bersifat musik, melalui visual, atau adapula anak yang tak bisa mengerti bila hanya membaca.
“Bakat setiap anak pun berbeda. Tinggal kami sebagai institusi sekolah menggali dan mengasah bakat yang di miliki tersebut, agar anak bisa tumbuh menjadi manusia yang bahagia bagi dirinya sendiri,” tambah Martinus Tukiran, Chief Operating Officer Central School.
Dengan cara lain, Antarina SF Amir, Managing Director High Scope Indonesia, menerangkan bahwa hal itu juga menyangkut dua paradigma besar dalam dunia pendidikan, yaitu paradigma behavioristik dan paradigma konstruktivitis. Cara-cara yang fokus pada guru cenderung mengikuti paradigma behavioristik, sedangkan yang berfokus pada siswa mengikuti paradigma konstruktivitis. Pada paradigma yang disebut terakhir, pembelajaran di lakukan secara kreatif dan produktif, di mana siswa menjadi penemu. Guru bukan satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan di kelas, anak bisa di beri kemandirian untuk belajar dengan memanfaatkan beragam sumber belajar yang memadai, diberi peneguhan dan motivasi.
Bertolak dari hal tersebut, kini semakin banyak dikembangkan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada perkembangan siswa atau lebih di kenal dengan sistim student center. Di sini setiap siswa dituntut untuk aktif di kelas, dalam diskusi, maupun dalam pembentukan konsep mereka masing-masing. Jadi, murid lebih bersikap aktif dan guru bertindak fasilitator.
Dengan diarahkan untuk membentuk pemahaman konsepnya sendiri, sifatnya akan lebih bertahan lama bila dibandingkan dengan cara didikte. Cara ini cukup efektif untuk terus menumbuhkan motivasi dan kemauan, serta rasa ingin tahu yang besar kapan sampai kapanpun, sehingga pengetahuan tidak pernah mandek. Beda halnya bila anak lebih banyak dijejali dengan berbagai hal,namun tidak memahaminya secara mendalam.
Dalam metode pembelajaran ini, teori multiple intelligences menjadi salah satu landasan yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar sehari-hari. Yang dimaksud multiple intelligences itu sendiri merupakan pengembangan delapan area kecerdasan, yaitu logika, kata, musik, gerak, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, alam, dan naturalis.
Teori tersebut pun dimasukkan ke dalam bentuk-bentuk pembelajaran yang diterapkan di setiap mata pelajaran, melalui permainan, dramatisasi, diskusi, maupun percobaan di labolatorium. Misalnya, saat mempelajari bahasa Indonesia, anak dituntut membuat puisi, membacakannya di depan kelas, membuat drama, dan sebagainya. Membuat puisi merupakan bagian dari intrapersonal dan emosi, proses membuat drama bersama teman adalah bagian dari interpersonal dan gerak, dan seterusnya.
Perubahan paradigma ini tentu saja harus selaras dengan pemahaman orangtua dari setiap peserta didik. Bila tidak, anak justru menjadi korban karena bingung untuk menerapkan nilai yang berbeda. Kesadaran ini diperlukan untuk memberikan keseimbangan dan proses tumbuh-kembang anak yang optimal. Seperti yang ditekankan oleh Wiryawan, setiap anak diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang utuh.

Sumber : Kompas



PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

Pendahuluan
Tidak dapat disangkal lagi betapa pentingnya pendidikan dalam lingkungan
keluarga bagi perkembangan anak-anak manusia yang pribadi dan berguna bagi
masyarakat. Kita semua tentu telah mengetahui bahwa pengaruh keluarga terhadap
pendidikan anak-anak berbeda-beda. Sebagian keluarga atau orang tua mendidik anakanaknya
menurut pendirian-pendirian modern, sedangkan sebagian lagi masih menganut
pendirian-pendirian kuno atau kolot.
Keadaan tiap-tiap keluarga berbeda-beda pula satu sama lain. Ada keluarga yang
kaya, ada yang kurang mampu. Dan keluarga yang besar (banyak anggota keluarganya),
dan ada pula keluarga yang kecil. Ada keluarga yang selalu diliputi oleh suasana yang
tenang dan tenteram, ada pula yang selalu gaduh, bercekcok, dan sebagainya. Dengan
sendirinya, keadaan dalam keluarga yang bermacam-macam coraknya itu akan membawa
pengaruh yang berbeda-beda pula terhadap pendidikan anak-anak.
Dari kecil anak dipelihara dan dibesarkan oleh dan dalam keluarga. Segala
sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda dan orang-orang serta
peraturan-peraturan dan adat-istiadat yang berlaku dalam keluarga itu sangat berpengaruh
dan menentukan corak perkembangan anak-anak. Bagaimana cara mendidik yang berlaku
dalam keluarga itu, demikianlah cara anak itu mereaksi terhadap lingkungannya.
Pembahasan

1. Pengertian pendidikan orang tua terhadap anak-Anak.
Pendidikan oraang tua terhadap anak-anak adalah pendidikan yang didasarkan
pada rasa kasih sayang terhadap anak-anak dan kodrat yang diterimanya. Orang tua
adalah pendidik sejati. Oleh karena itu, kasih sayang orang tua terhadap anak-anak
hendaknya memberikan kasih sayang yang sejati pula. ”J. J. Roussseau (1712-1778),
sebagai salah satu seorang pelopor ilmu jiwa anak, mengutarakan pula betapa pentingnya
pendidikan keluarga itu. Ia menganjurkan agar pendidikan anak-anak disesuaikan dengan
tiap-tiap masa perkembangannya sedari kecilnya”. (Ngalim Purwanto, 1995:79).
Dalam hal ini hendaknya kita harus ingat pula bahwa pendidikan berdasarkan
kasih sayang saja kadang-kadang mendatangkan bahaya. Kasih sayang harus dijaga
jangan sampai berubah menjadi memanjakannya. kasih sayang harus dilengkapi dengan
pandangan yang sehat tentang sikap kita terhadap anak.
2. Hal-hal yang perlu dihindari oleh orang tua dalam mendidik anak.

a. Jangan sering melemahkan semangat anak dalam usahanya untuk mandiri.
Dalam hal ini masih banyak orang tua yang selalu menganggap anaknya
itu masih kecil, belum dapat berbuat atau mengerjakan sesuatu sehungga orang
tua kerap kali melarang anak-anaknya. Larangan merupakan alat mendidik satusatumya
yang lebih banyak dipakai oleh para orang tua terhadap anaknya.
Sebenarnya pendapat yang seperti itu tidak benar. Seorang anak yang selalu
dilarang dalam segala perbuatan dan permainannya sejak kecil dapat terhambat
perkembangan jasmani dan rohaninya.
b. Jangan memalukan/ mengejek anak-anak dimuka orang lain.
Sangat kita sayangkan pendapat orang tua, bahkan juga gurunya, yang
masih menganggap alat pendidikan yang salah ini sebagai satu-satunya cara
mendidik yang dapat mendatangkan hasil. Padahal anak yang sering ditertawakan
dan diejek jika tidak berhasil melakukan sesuatu, maka dengan tidak sadar ia akan
selalu berhati-hati tidak akan mencoba melakukan yang baru atau yang sukar. Ia
akan menjadi orang yang selalu diliputi oleh keragu-raguan.
c. Jangan selalu membeda-bedakan dan berlaku ”pilih kasih”.
Perlakuan ini terhadap anak-anak dalam keluarga kita, baik antara yang
besar dan kecil maupun antara anak laki-laki dan anak perempuan akan
mengakibatkan kecemburuan dan kompetisi yang negative. Jadi usahakan agar
dalam segala tingkah laku dan perbuatan kita menunjukkan cinta dan kasih
sayang yang merata kepada mereka.
d. Jangan memanjakan anak.
Seorang anak yang dimanjakan akan kurang rasa tanggung jawabnya,
selalu bersandar dan minta pertolongan kepada orang lain, merasa diri tidak
sanggup, dan sebagainya. Tidak memanjakan bukan berarti kita tidak
mempedulikannya, karena anak yang tidak dipedulikaan atau kurang terpelihara
oleh orang tuanya, akan merasa bahwa dirinya itu rendah tak berharga, merasa
diasingkan oleh orang lain, dan sebagainya. Akibatnya, ia akan berbuat
sekehendak hatinya. (Ngalim Purwanto, 1995:85-86).
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah kami paparkan dapat kami simpulkan bahwa:
1. Segala sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda dan orangorang
serta peraturan-peraturan dan adat-istiadat yang berlaku dalam keluarga itu
sangat berpengaruh dan menentukan corak perkembangan anak-anak.
2. Hal-hal yang perlu dihindari oleh orang tua dalam mendidik anak:
a. Jangan sering melemahkan semangat anak dalam usahanya untuk mandiri.
b. Jangan memalukan/ mengejek anak-anak dimuka orang lain.
c. Jangan terlalu membeda-bedakan dan berlaku ”pilih kasih”.
d. Jangan memanjakan anak tetapi tidak baik pula jika kita tidak mempedulikannya.
Daftar Pustaka
Purwanto, M. Ngalim. 1995. Ilmu Pendidikan Teoritis daan Praktis. Bandung: Remaja
Rosdakarya.



Menuju Pendidikan Gratis ( Sebuah Tinjauan)

Oleh : Ahmadi Haruna

Beban pemerintah untuk membiayai pendidikan saat ini – harus diakui tidaklah ringan. Apalagi jika kita kaitkan dengan setumpuk target yang ingin dicapai dibidang pendidikan – terutama dalam rangkaian penyempurnaan sarana – prasarana yang bermuara akan tercapainya mutu. Yang lebih ironis lagi karena masyarakat sangatlah kurang akan pemahaman mengenai subsidi yang diberikan sekolah dari pemerintah. Mereka menganggap segala subsidi itu merupakan tanggung jawab sekolah untuk membiayai pendidikan yang berlangsung . Ia benar- benar ingin lepas tangan akan bantuan atau partisipasi dalam membantu terlaksananya program pembangunan disekolah. Image ini perlu segera diubah – walau dikondisi kini rasanya agak susah namun setahap demi setahap dilakukan sosialisasi – mudah – mudahan ujungnya akan dimengerti.
Kita tak bisa sangkali saat ini masyarakat kita baik yang punya anak didik disekolah tertentu maupun yang tidak punya, sangatlah rendah partisipasinya didalam mendukung program pembangunan dalam arti baik fhisik maupun SDM . Jikalaupun ada presentasenya sangatlah kecil – atau paling tidak karena punya anak atau kepentingan tertentu pada sebuah sekolah.
Salah satu alternatif agar mampu meningkatkan partisipasi dan sekaligus secara pelan- pelan merangsang motivasi guna mengulurkan bantuan di bidang pendidikan yakni Pemkot idealnya mengeluarkan Instruksi, semacam Perda atau apalah namanya yang penting memiliki dasar hukum sebagai payung - untuk meminta bantuan pada sejumlah pengusaha yang akan atau telah melakukan kegiatan usahanya – soal model dan besarnya permintaan terserah bentuknya dan berdasar pada nilai proyek yang dikerjakan .
Alternatif lain, pemkot mengeluarkan edaran internal agar seluruh pejabat Esalon satu dan II serta anggota Legislatif mau menyisihkan pendapatannya. Dan untuk hal ini perlu diberikan instrument khusus akan alasan dan pertimbangan untuk penetapan besarnya bantuan pada dunia pendidikan. Pola ini memang tidaklah sederhana dan tentunya masih perlu diperdebatkan khususnya dalam hal mekanisme penarikan dan sasaran dana yang ditarik. Namun jika wacana ini bisa diwujudkan tentunya dengan kesadaran tinggi untuk membantu perkembangan dunia pendidikan – saya yakin pemkot tak lagi “Gelisah” untuk memikirkan bagaimana setiap tahunnya memberikan bantuan pada setiap sekolah – paling tidak untuk jenjang sekolah dasar dan SLTP.
Yang lebih menarik lagi, jika benar- benar dua alternatif bisa dirumuskan bersama dan dikembangkan - program pemerintah untuk memberlakukan system pendidikan gratis akan bisa terwujud – dan orang–orang yang menyebutnya pendidikan gratis yang didengungkan pemerintah hanyalah sebatas mimpi – ‘akan kecele’.

Kualitas Seorang Sarjana Bukan Hanya Ditentukan Perguruan Tinggi

Oleh : Ahmadi Haruna

Berkualitas tidaknya seorang sarjana bukan hanya ditentukan oleh perguruan tinggi tempat ia belajar. Seorang sarjana dikatakan berkualitas optimal jika mampu berperan dalam masyarakat. Prestasi belajar yang dicapai seorang mahasiswa dibangku kuliah baru merupakan bagian dari kualitas seorang sarjana. Dengan demikian realitas masyarakat juga ikut menentukan, apakah seorang sarjana berkualitas atau tidak.
Dalam mengaplikasikan ilmunya ditengah-tengah masyarakat, seorang sarjana seharusnya jangan berhenti belajar. Bila seorang sarjana sampai berhenti belajar, ia akan tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan informasi yang semakin mengglobal. Dengan demikian ia akan kurang tanggap dan mampu kurang mampu mengantisipasi realitas yang dihadapi dalam masyarakat.
Sangat disayangkan bila seorang sarjana hanya mau belajar ketika masih menjadi mahasiswa, dan setelah lulus dari perguruan tinggi berakhir pula kewajibannya untuk belajar. Banyak mahasiswa yang belum menyadari jika selesai dari perguruan tinggi, seorang sarjana menghadapi tantangan yang lebih besar. Seorang sarjana akan dituntut menghadapi persoalan rumit yang memerlukan kualitas manusia agar mampu menghadapi realitas masyarakat tersebut.
Seorang sarjana yang berhenti belajar akan ketinggalan ‘kereta’ sebab persaingan di pasaran kerja semakin ketat dari tahun ke tahun. Dalam persaingan di lapangan pekerjaan saat ini sangat membutuhkan manusia berkualitas, untuk itu hanya seorang sarjana yang betul-betul berkualitas akan mampu berperan dalam pembangunan di masa ini dan akan datang.



PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR

Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Merasakan makanan yang terus-menerus akan menimbulakan kebosanan; melihat film yang sama dua kali saja orang sudah tidak mau, juga karena bosan. Orang akan lebish suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti kata positif. Makan makanan yang bervariasi (bermacam-macam akan merangsang untuk makan. Mendengarkan lagu-lagu baru lebih menyenangkan daripada lagu-lagu yang tiap hari didengar. Rekreasi pada dasarnya juga mengurangi kebosanan pandangan ditempat asalnya. Mengatur alat rumah tangga sering berganti, akan membuat orang lebih senang dirumah daripada pergi. Demikian juga dalam proses belajar mengajar . Bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi, maka akan membosankan siswa, perhatian siswa berkurang, mengantuk, dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi antara guru dan siswa.
Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya atau secara integrasi, maka akan meningkatkan perhatian siswa, membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. Keterampilan dalam mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya, karena merupakan keterampilan campuran atau diinegrasikan dengan keterampilan yang lain. Misalnya, cariasi dalam memberikan penguatan, variasi dalam memberi pertanyaan, dan variasi dalam tingkat kognitif.
Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk.

A. Tujuan Variasi Mengajar
Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimadsud adalah :

1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai factor memang mempengaruhi. Misalnya factor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi yang diberikan guru.
Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bias dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Karena itu, guru memperhatikan variasi mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.
2. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinyanya Motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi, seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung.
Dalam proses belajr mengajr di kelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenanginya, tetapi bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalh bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan.
Bagi siswa yang sering memperhatikan materi pel;ajran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guiru. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya kurang dapt mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.

3. Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah
Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Sikap negative ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada siswi. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Acuh tak acuh sering ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas.
Kurang senangnya seorang siswa terhadap guru bias jadi disebabkan gaya mengajar guru yang kurang bervariasi. Gaya mengajar guru tidak sejalan dengan gaya belajr siswa.
Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Misalnya hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain. Misalnya metode diskusi, resitasi, Tanya jawab, problem solving atau cerita.
Ketika mengajar, guru selalu duduk dengan santainya di kursi, tak peduli bagaimana tingkah laku dan perbuatan anak didik, adalah jalan pengajaran yang cepat membosankan. Guru kurang dapat menguasai keadaan kelas. Kegaduhan biasanya sering terjadi pada sudut-sudt kelas. Akibatnya jalan pengajaran kurang menguntungkan bagi kedua belah pihak, yaitu guru dan siswa. Guru gagal menciptakan suasana belajr yang membangkitkan kreativitas dan kegairahan belajar siswa.
Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.



Masalah Pendidikan Menurut Nelson Tansu

Sedikit tentang Prof. Nelson Tansu, PhD (kelahiran 20 Oktober 1977), dia adalah salah satu dari sedikit anak muda
Indonesia yg sukses di bidangnya. Dari hasil wawancaranya dengan pembelajar.com ada beberapa hal yg bisa dijadikan
benang merah masalah pendidikan di Indonesia.

Beberapa kali dia mengatakan persoalan utama yg membuat pendidikan di Indonesia tertinggal jauh adalah:Kurang
optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan (yg sebenarnya sudah cukup baik) di lapangan yg disebabkan sulitnya
menyediakan guru2 berbobot untuk mengajar di daerah-daerah.Sebenarnya kurikulum Indonesia tidaklah kalah dari
kurikulum di negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Implementasi pendidikan yg kurang
benar.
Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang
sehingga profesi ini tidak begitu dihargai dan dipandang sebelh mata.Kultur belajar bukanlah masalah utama tetapi kultur
masyarakat secara keseluruhan karena tidak disadarinya pendidikan adalah investasi bangsa.Terlalu seringnya sistem
pendidikan digonta-ganti tergantung kondisi politik, padahal itu bukanlah masalah utama, yg menjadi maslah utama
adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal.Kurangnya pemerataan di daerah.

Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yg belajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yg disediakan pemerintah.Yah dari semua point yg diungkapkan Nelson Tansu itu sudah disadari oleh semua pihak mulai pakar
pendidikan, pemerintah, dan orang tua siswa/mahasiswa. Tapi mengapa mereka terutama pemerintah terkesan enggan
untuk menginvestasikan APBN-nya untuk pendidikan. Apa mungkin tidak percaya terhadap pengelolah pendidikan, yg
memang hobi memanipulasi itu? Atau pura-pura tidak tahu karena garapan pendidikan hasilnya tidak bisa segera dilihat
selama masa kekuasaannya? Atau karena memang sudah diketahui bahwa dana besar kalo guru tidak berbobot
hasilnya tetep nol? Tapi kalo iya mengapa rekrutmen pendidik yg saat ini saya rasa lebih buruk tetep dilanjutkan gara2
desekan arus bawah.

Saat ini guru banyak direkrut dari lulusan S-1 non pendidikan yg kemudian membeli “akta IV” di “kampus kali lima” dengan hanya membayar kisaran 2 juta saja.Banyak sekali kegiatan yg dilakukan depdiknas untuk meningkatkan bobot guru, tetapi tindak lanjut yg nol besar dari kegiatan semacam penataran, sosialisasi, atau apalah namanya. Jadi terkesan (atau memang bener yah) yg penting kegiatan itu terlaksana selanjutnya yah terserah mau kinerja lebih baik atau tidak mereka gak perduli.Jika kondisi semacam itu tidak diubah untuk dibenahi kecil harapan pendidikan bisa lebih maju/baik. Pendidikan jika dipolitisir maka sampai kapanpun pendidikan Indonesia sulit untuk maju.

Yah memang ada beberapa sekolah sudah terpandang, namun dibandingkan populasi sekolah yg ada sangat tidak
singnifikan.Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yg berkualitas mesti bermodal/berbiaya besar. Tapi oleh pemerintah
itu tidak ditanggapi, kita lihat saja anggaran pendidikan dalam APBN itu. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan
membaik jika gurunya berbobot dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran.

Sumber : urip.wordpress

Masalah Pendidikan Bukan Semata Tergantung Besarnya Anggaran

Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 telah menegaskan persentase dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara
(APBN) untuk dialokasikan bagi pembiayaan pendidikan. Niat baik di balik amandemen itu adalah kesadaran bahwa
dunia pendidikan memerlukan pembenahan yang mendasar dan sungguh-sungguh.

Anggaran pendidikan telah meningkat demikian besar. Alokasi APBN untuk Depdiknas merupakan alokasi paling
besar yang diberikan kepada lembaga pemerintahan, kenaikannya sangat signifikan. Namun tentu saja masalah
pendidikan bukan semata-mata tergantung kepada besarnya anggaran, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Simposium Nasional Pendidikan dan Ketenagakerjaan di Istana Negara, Jakarta pada hari ini.

Hadir mendampingi Presiden SBY pada pembukaan simposium Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo serta
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno. Simposium dengan tema Menentukan Arah Pembangunan
Nasional digagas oleh organisasi kemahasiswaan diantaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI); Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia ( GMNI ); Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI); dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
(IMM).Presiden SBY menyampaikan, hal-hal lain yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan perlu dibenahi. Menurut dia,perlu membangun fasilitas pendidikan yang memadai. Selain itu, menyediakan tenaga guru dan dosen yang memiliki
kualitas serta kemampuan yang tinggi. Lebih dari itu, lanjut dia, kurikulum pendidikan nasional juga harus terus menerus
dilakukan evaluasi agar tetap sejalan dengan kebutuhan perubahan zaman dan tantangan masa depan. Agar
output pendidikan sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja yang tersedia di negeri kita, baik di sektor pertanian,
industri, maupun di sektor jasa, ujarnya.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya, kata SBY, adalah menyadarkan para orang tua tentang betapa pentingnya
pendidikan bagi anak-anak mereka. Sesungguhnya hanya pendidikan lah yang akan mampu mengubah masa
depan seseorang. Setiap orang tua hendaknya berpikir bahwa nasib anak-anak mereka lebih baik dari nasib mereka
sekarang katanya.

SBY mengatakan, sekarang pemerintah telah membebaskan biaya pendidikan bagi keluarga miskin. Pemerintah juga
telah memberikan bantuan operasional sekolah ( BOS ) agar kendala biaya dan fasilitas pendidikan dapat diatasi. Di berbagai daerah bahkan, yang saya kunjungi, yang saya cek di lapangan, pemerintah daerah telah membebaskan biaya pendidikan hingga jenjang SMA. Demikian juga kesehatan, diharapkan makin berkualitas, murah, dan gratis. Rakyat miskin bebas berobat di Puskesmas dan di rumah sakit kelas III , ujarnya.
Lebih lanjut SBY mengatakan dunia pendidikan dan dunia ketenagakerjaan adalah dua dunia yang saling berhubungan
secara fungsional. Menurut dia, masalah yang terjadi pada dunia ketenagakerjaan tidak dapat dilepaskan dari masalah
yang terjadi pada dunia pendidikan. Dunia ketenagakerjaan memiliki paradigma dan logika tersendiri yang dalam
prakteknya tidak selalu sejalan dengan paradigma dan logika dunia pendidikan. Dan ini bukan hanya di negeri
kita, ujarnya. Lebih jauh SBY mengatakan pertumbuhan dunia ketenagakerjaan tidak pula selalu berbanding lurus dengan
pertumbuhan dunia pendidikan. ”Itulah sebabnya kita harus terus mencurahkan perhatian dan pemikiran untuk
merumuskan sistem kebijakan dan formula yang tepat agar dapat mensinergikan dua dunia yang berbeda namun saling
terkait ini, katanya.

Setiap tahun, kata SBY, pasar tenaga kerja dibanjiri jutaan tenaga kerja baru. Dia mengatakan, jumlah angkatan kerja
baru jika dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja setiap tahunnya selalu mengalami kesenjangan. Angkatan kerja
bertambah terus, baik yang berpendidikan SMA maupun sarjana, bahkan lulusan SMP dan SD. Menurut dia, hal ini
bukan semata-mata disebabkan oleh kurang sesuainya pendidikan dan ketenagakerjaan, tetapi juga karena tidak
mudahnya membuka lapangan pekerjaan baru. Membangun dan memperluas lapangan kerja harus dikerjakan
bersama-sama oleh pemerintah dan dunia usaha, katanya. Kepada peserta yang hadir, SBY mengajak untuk mengembangkan segitiga tanggung jawab, yakni pihak pemerintah, lembaga pendidikan, dan pasar tenaga kerja atau jasa yang menyerap hasil pendidikan.* **

Sumber : www.depdiknas.go.id




Cara Memprioritaskan Kuantitas dan Kualitas Pendidikan

Kuantitas dan kualitas pendidikan harus diprioritaskan secara seimbang. Yang sering terjadi adalah kuantitas yang tinggi akan mengurangi kualitas atau sebaliknya kualitas yang tinggi dapat mengurangi kuantitas. Karena itu dalam pembiayaan pendidikan perlu adanya asumsi yang berlaku secara umum:

Pendidikan untuk semua. Penyediaan pendidikan dasar yang proporsinya lebih besar dan sekolah menengah bagi yang melanjutkan serta perguruan tinggi yang memadai.
Ketetapan berlaku seluruh warga. Ketetapan dirancang dan berlaku untuk memenuhi kebutuhan setiap orang.

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Kesempatan diberikan untuk semua warga negara dalam memperoleh kesempatan pendidikan dan mutu pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan.

Peluang pendidikan harus disiapkan. Masyarakat berhak untuk memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya dengan fasilitas negara.

Sekolah dasar dan menengah harus didukung oleh dana melalui perpajakan publik
Perlakuan yang khusus bagi mereka yang ingin mengirimkan anaknya ke perguruan tinggi

Masing-masing status perlu menyediakan hukum dan konsekuensinya dalam mendukung keuangan yang cukup

Masing-masing warga negara turut mendukung dengan kemampuannya pada sekolah negeri dan institusi yang lebih tinggi,

Untuk memprioritaskan kualitas dan kuantitas pendidikan ini, masing-masing sekolah mempunyai prioritas pembiayaan yang berbeda-beda. Menurut Bobbit (1992), sekolah secara mandiri dan berkewenangan penuh menata anggaran biaya secara efisien, karena jumlah enrollment akan menguras sumber-sumber daya dan dana yang cukup besar. Penggunaan biaya yang tidak perlu dihindari. Efektifitas pembiayaan sebagai salah satu alat ukur efisiensi, program kegiatan tidak hanya dihitung berdasarkan biaya tetapi juga waktu, dan amat penting menseleksi penggunaan dana operasional, pemeliharaan, dan biaya lain yang mengarah pada pemborosan.
Perhitungan kuantitatif yang dapat digunakan untuk melihat efisiensi dan efektifitas internal antara lain digunakan pertimbangan rata-rata lama waktu belajar (average study time) yang dihabiskan oleh lulusan dalam satu periode tertentu. Banyaknya waktu yang dihabiskan oleh siswa (pupil year wasted) sebagai pemborosan, hal tersebut terjadi antara lain karena pengulangan kelas, putus sekolah, dan berhenti sementara. Waktu yang dibutuhkan sekolah (years input pe graduate) untuk menghasilkan lulusan yang normal maupun mengulang. Schultz (1963) mengemukakan output dapat diilustrasikan seperti ketrampilan dasar, ketrampilan pekerjaan, kreatifitas, bakat dan lainnya. Output ini menjadi gambaran bahwa ketrampilan dan pengetahuan melalui proses pendidikan perlu dukungan biaya. Ketersediaan anggaran untuk pengelolaan satuan pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan menjadi penting untuk membangkitkan kinerja (meningkatkan kualitas) sekolah agar menjadi lebih baik.

Strategi yang ditempuh sehingga terpenuhi biaya pendidikan yang direkomendasikan oleh UU No. 20 tahun 2003 Sispenas Pasal 46 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Berdasarkan undang-undang tersebut penyediaan anggaran pendidikan menjadi tanggung jawab negara baik pemerintah pusat yang bersumber dari APBN maupun pemerintah propinsi yang bersumber dari APBD dan pemerintah kabupaten/kota yang juga bersumber dari APBD, sehingga masing-masing perlu adanya wewenang yang jelas. Selain itu untuk menggalang peran serta masyarakat perlu adanya suatu sistem yamg mendukung atau memberikan ruang gerak kepada sekolah untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasinya. Saat ini yang terjadi di negara kita, untuk sekolah negeri, apabila kekurangan dana karena suplay dari pemerintah terbatas, maka sekolah cenderung menunggu alokasi dana berikutnya dari pemerintah. Jika sekolah berinisiatif untuk mengatasinya dengan dana diluar alokasi pemerintah, tidak ada aturan yang membenarkannya. Seandainya sekolah mampu mengakses dana yang bersumber non pemerintah, pekerjaan tersebut dianggap negatif, karena tidak legal.

irwanparawansa@gmail.com



Membangun Indonesia Melalui Sadar Pendidikan

Ilmu pengetahuan merupakan pondasi utama memajukan sebuah bangsa dan Negara. Suatu bangsa dan Negara yang mengabaikan akan pentingnya sebuah pendidikan bagi generasi penerus, maka bangsa tersebut akan lemah dalam segala hal,
maka bangsa tersebut akan selalu hidup dalam kemunduran tanpa adanya kemajuan yang sangat berarti. Indonesia yang meupakan penduduk yang mayoritas muslim, bahkan dapat disinyalir bahwa Indonesia merupakan Negara terbesar di dunia yang kapasitas penduduknya beragama Islam. Sebagai pemeluk agama yang setia, kita dapat mempelajari betapa Islam begitu besarnya membrikan perhatian terhadap pendidikan. Hal ini dapat kita pelajari dari wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda besar Muhammad SAW yaitu surat Al-'Alaq ayat 1-5 yang artinya " bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dri segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang ia tidak diketahuinya" .

Kekuatan yang dimiliki ummat dan kemenangan yang selalu dijanjikan Allah SWT kepada mereka, bukan hanya bertumpu pada sisi aqidah atau ibadah saja dan tanpa diiringi dengan ilmu pengetahuan Islam dan ekspansi kebaikan atau amal islami dalam kehidupannya. Namun, kekutan dan kemenangan itu tegak kokoh di atas tiga pilar yang satu sama lain tidak boleh terpisahkan yaitu, iman, ilmu dan amal (ibadah), dan saat ini, ketika ummat mulai meninggalkan tsaqafah islamiah dan ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat, maka kekuatan dan kemenangan tersebut berangsur-angsur akan hilang dan pada akhirnya digantikan dengan ketidakberdayaan serta kelemahan. Sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya. ".Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (az-Zumar: 9) ".niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (al-Mujaadilah: 11), mengenai hal ini, Imam Syafi'i berkata, "Sesungguhnya jati diri seorang pemuda-demi Allah-ada dalam ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya."

Ilmu merupakan kekuatan, siapa yang paling unggul ilmunya dialah yang memimpin. Sekarang peradaban yang menguasai dunia adalah peradaban Barat. Ini logis, sebab Baratlah yang menguasai iptek dan science. Berkaitan dengan inilah tatkala Allah SWT memberikan isyarat tentang pengembangan ilmu pengetahuan di dalam Kitab Suci-Nya, Dia menyeru tidak secara khusus ditujukan kepada orang-orang beriman, namun seruan-Nya dilakukan secara umum kepada seluruh jamaah jin dan manusia, sehingga siapa yang lebih dahulu melakukan observasi, kajian dan pengembangan, maka dialah yang mendapatkannya (QS. Ar Rahman, 55:33).

Pada masa silam para ulama umat Islam selain memiliki penguasaan terhadap ilmu-ilmu agama, mereka juga menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum yang berorientasi pada pengembangan sarana kehidupan.Sebagai contoh Ibnu Sina misalkan, yang di Barat disebut dengan Avecienna, selain seorang ulama yang pakar dalam bidang kedokteran sesungguhnya dia juga menulis buku-buku tentang fiqih, tafsir dan akidah.
Al Qur'an sebagai Way of Life orang-orang Islam, padanya paling tidak ada 3 tipe ayat, yang apabila kaum Muslimin mensikapinya secara benar dan proporsional, bisa jadi akan menghantarkannya pada kejayaan, kemajuan dan supremasi. Ketiga tipe ayat itu adalah:

Pertama, ayat-ayat tentang keimanan dan keyakinan kepada yang ghaib, seperti iman kepada Allah, malaikat, takdir/qadha, hari Kiamat, pahala, dosa, surga, neraka dan sebagainya. Terhadap masalah yang seperti ini pendekatan yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan hati, yaitu iman.

Kedua, ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan isyarat-isyaratnya. Terhadap masalah ini pendekatannya adalah dengan menggunakan akal, yaitu dipikirkan, diobervasi, dikaji, dan dikembangkan sehingga lahirlah science dan teknologi.

Ketiga, ayat-ayat tentang hukum dan undang-undang. Terhadap ayat-ayat yang seperti ini kewajiban umat Islam adalah melaksanakan dan menegakkannya.

Pendekatan yang benar dan proporsional akan melahirkan umat yang memiliki keimanan yang kokoh, cerdas dan berilmu pengetahuan dan percaya diri dan bangga dengan identitas dirinya. Inilah modal utama ke arah kejayaan dan supremasi Umat Islam.

Dalam kenyataannya umat ini justru mengalami kelemahan dalam hal itu semua. Walhasil umat sekarang dalam keadaan hina, mundur dan terkebelakang, sebagai konsekwensi jauhnya mereka dari tuntunan dan pedoman hidupnya: "Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat besar. Allah tidak lengah dari apa yang mereka perbuat." (QS. Al Baqarah:85)

Sebenarnya, negara-negara Islam belum sepenuhnya keluar dari cengkeraman para negara agresor dan penjajah, seperti Indonesia, Tunisia, Siria, Mesir, dan negeri-negeri yang lainnya. Mereka masih terjajah. Tidak kah mereka membawa empat slogan yang selalu didengung-dengungka n? Yaitu, God (Tuhan atau penyebaran agama), Gold (Emas), Gospel (kekayaan), dan Glory (kejayaan). Empat tujuan ini masih mereka nikmati, meskipun mereka telah hengkang dari negeri-negeri jajahannya. Maka meskipun secara fisik dunia Islam tidak terjajah, namun setiap dimensi kehidupan ummat masih dalam cengkeraman konspirasi mereka. Dan konspirasi mereka inilah yang dewasa ini dikerjakan oleh tangan-tangan LSM-LSM dan Yayasan-yayasan yang digerakkan oleh anak-anak muslim yang sudah dicuci otaknya dan yang didanai oleh mereka, para penjajah. Seperti Freemansory, Rotary Club, Lion Club, LSM sosialis komunis dan yang lainnya. Mereka bergerak sesuai keinginan donatur-donatur mereka yang semuanya ingin memberangus kebenaran Islam.

Setelah peperangan usai dan para penjajah hengkang dari bumi ummat Islam, namun negara-negara ketiga yang notabane negeri muslim semakin hari semakin terbelakang dan terpuruk dalam bidang iptek dan industri. Ini juga merupakan langkah-langkah strategis yang dilakukan pihak Barat dan musuh-musuh Islam yang tidak pernah ingin melihat ada satu negara muslim yang berkembang dan mengalami kemajuan. Mari kita renungkan beberapa komentar dan pernyataan para orientalis berikut ini;

Salah seorang pejabat pada Kementerian Luar Negeri Perancis pada tahun 1952 mengatakan: "Bahaya yang sebenarnya mengancam kita adalah Islam. Untuk itu marilah kita beri apa yang dibutuhkan oleh dunia Islam serta menanamkan pada diri mereka perasaan ketidakmampuan untuk menjadi negara industri. Apabila kita lemah dalam pelaksanan strategi tersebut, maka kemungkinan besar ummat Islam mencapai kemajuan dan menjadi salah satu kekuatan raksasa di dunia untuk ke dua kalinya."

Bekas dictator Portugal, Salazar berkata: "Saya khawatir akan muncul ditengah umat Islam seorang tokoh yang mampu menyatukan potensi mereka dan mengarahkannya kepada kita."

Mungkin kita bisa bertanya; dimanakah posisi negara-negara muslim dewasa ini? Di saat negara-negara modern telah berbicara tentang berbagai revolusi besar yang hendak dijalankan; revolusi teknologi, revolusi biologi (geneologi, cloning, penemuan peta gen manusia dan lain sebagainya), revolusi elektronik, revolusi ruang angkasa, revolusi komunikasi, informasi dan seterusnya. Di mana posisi kita di tengah negara maju ini?

Dalam bidang pemikiran, para penjajah melahirkan antek-antek mereka dari anak-anak negeri untuk mempengerahui ummat Islam tentang cara berfikir yang benar. Mereka mengajak kembali kepada paradigma yang dimiliki oleh para penjajah tersebut bukan kembali kepada Islam. Dengan dalih mereka telah menemukan kemajuan dan sementara dunia Islam dalam kegelapan ilmu pengetahuan. Jadi mereka menyerukan genarasi-generasi muslim untuk berkiblat kepada nilai-nilai yang diyakini para penjajah. Dan nilai-nilai ini bersandarkan kepada keyakinan, filsafat dan adat istiadat yang berkembang di tengah mereka. Sehingga tanpa disadari atau tidak, kita selaku ummat islam mulai menafikan akan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pegangan dan pedoman dalam hidup.

Bahkan kita melihat banyak dari kalangan umat ini yang bangga dengan referensi Barat dalam bidang keilmuan yang seharusnya tidak layak untuk dijadikan sebagai referensi maupun rujukan utama. Seperti dalam bidang psikologi yang mengacu kepada pendapat Sigmun Freud, bidang sosiologi dan moral.

Seharusnya, umat ini ketika menjadikan Islam sebagai referensi utama, mereka harus kembali kepada Al-Quran, Al-hadits, Ijma', Perkataan Sahabat, Perkataan Tabi'in dan dalil-dalil yang dibenarkan dan diakui dalam terminology istinbat dan ijtihad.

Dari hasil kerja para penjajah sebelum mereka meninggalkan negara-negara jajahannya adalah keterbelahan jiwa ummat dalam memegang tali Allah SWT. Mereka menjadi minder ketika disebut muslim, mereka malu dan merasa terbelakang apabila ditanyakan tentang identitas dirinya sebagai muslim. Padahal seharusnya mereka berani menunjukkan dengan jelas apa identitas mereka dan siapa mereka? Hal ini dikarenakan seorang muslim memiliki identitas yang khas, kepribadian independen dan loyalitas yang jelas. Ia adalah pemilik risalah bumi dan pemikul panji dakwah universal yang berkarakter rabbaniah, insaniah dan akhlakiah.

Dampaknya dari itu semua, Rasulullah dan para sahabat tidak lagi dijadikan panutan dan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih bangga dengan budaya yang dikembangkan dan diperkenalkan oleh dunia Barat kepada negara-negara muslim, khususnya Indonesia

Untuk menghadapi berbagai problematika umat dewasa ini, baik yang bersifat permanen dan inheren maupun yang bersifat kontemporer karena faktor eksternal, maka seluruh Umat Islam harus membangun kembali kesadaran akan agamanya dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam setiap dimensi kehidupannya.

Ada tiga fokus yang sangat mendasar, dimana setiap individu muslim harus memperbaiki dirinya dalam hal ini.

Pertama, Memiliki ilmu pengetahuan.

".Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (az-Zumar: 9)

".niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (al-Mujaadilah: 11)

Imam Syafi'i berkata, "Sesungguhnya jati diri seorang pemuda-demi Allah-ada dalam ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya."

Kedua, Belajar secara kontinyu.

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali 'Imran: 104)

Ketiga, Berjuang sepanjang masa.

"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (al-Hajj: 77-78)

Akhirnya, kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga kita termasuk orang-orang yang memulai untuk berbenah diri dalam menghadapi berbagai problematika ummat sekarang ini.

Allah wa Rasuluh A'lam Bishshawab


Written by Rahmat Arafah Al - Madany *
*Penulis adalah mahasiswa International Islamic Call College Tripoli Libya
http://www.artikel-indonesia.co.cc/2009/03/membangun-indonesia-melalui-sadar.html


Pendidikan untuk "Kaum Kecil"

Oleh : Faturochman dan Ambar Widaningrum*

Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan diharapkan sebagai
salah salu jalur untuk mengatasi ketidaksamarataan dalam masyarakat untuk
meningkatkan hidup rakyat miskin. Demikian bunyi kalimat yang sering terdengar
kalau kita bicara soal pendidikan dan kemiskinan.
Kemiskinan sebagai fenomena menghalangi orang-orang miskin mengambil
bagian dalam kesempatan yang sebenarnya ada, termasuk kesempatan
memperoleh pendidikan, disebabkan oleh ketimpangan struktur institusional
dalam masyarakat. Sistem pendidikan modern saat ini sebagai salah satu institusi
penting ikut mencerminkan ketimpangan struktur masyarakat sekaligus
melestarikannya.

Memang, kemiskinan seringkali membuat kita trenyuh. Mereka sering tidak
bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang paling dasar. Mereka
terkurung dalam perangkap kemelaratan. Tak berdaya dan tak mampu mengadu
nasib mereka yang bagaikan takdir malang. Setiap jalan untuk lolos dari lubang
kemelaratan seakan-akan tertutup.
Kenyataan ini lebih terasa pahit lagi kalau kita dihadapkan pada
kemakmuran yang dinikmati orang-orang kaya. Jurang semakin dalam
memisahkan .mereka yang punya" dari "mereka yang tidak punya". Orang yang
tak berpunya tersebut tentu juga sempat berpikir ingin seperti mereka yang punya.
Syukurlah kalau mereka lalu mulai berpikir keras dan sehat, artinya mereka
berusaha untuk bisa menjadi orang yang bisa hidup lebih baik. Tapi yang tidak kita
inginkan adalah keinginan yang membabi buta dan tidak dilandasi oleh pikiran
yang sehat.

Pada gilirannya, sering kita baca di koran-koran berita maupun majalah,
kasus-kasus kejahatan yang setelah ditelusur sebabnya, mereka dalam kondisi
.terjepit". Kondisi ini macam-macam. Mungkin karena terjerat hutang, atau perut
sudah sangat lapar sementara isi kantong sudah tidak ada dan sebagainya.
Miskin Bukan Bodoh
Kalau kita kembali ke kalimat awal tulisan ini, apakah harapan itu bisa
dikatakan realistis? Apakah justru pendidikan dapat memberi sumbangan yang
berarti untuk menanggulangi masalah yang begitu mendasar? Apa syaratnya
supaya pemerataan pendidikan sungguh-sungguh bisa berhasil? Memang tidak
mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Diantara para ahli ilmu-ilmu sosial pun tidak terdapat kesepakatan. Di satu
pihak, ada yang sangat mengandalkan pendidikan sebagai jalan keluar dari
kemiskinan. Di pihak lain, ada pula yang meragukannya.
Dalam lingkungan sosial yang miskin, kebanyakan orang memiliki
pendidikan yang rendah. Mereka sering belum melek huruf atau putus sekolah.
Dengan kata lain, mereka paling banter tamat pendidikan dasar. Kesempatan
untuk pendidikan lanjutan hampir tidak ada.
Di massa sekarang, keadaan selalu cepat berubah dan terus menerus
berubah. Taraf pendidikan yang sangat rendah pada umumnya berkaitan dengan
informasi dan pengertian yang serba terbatas. Dengan demikian, segala
kesempatan atau sukses juga serba terbatas.

Kita tahu, orang miskin yang kurang berpendidikan tidak berarti bodoh.
Namun kecerdikan dan kepandaian mereka mau tak mau terbatas pada
lingkungan sosial mereka yang sangat sempit dan lebih diwarnai oleh tradisi.
Itulah salah satu sebab mengapa mereka sering kurang berdaya
menghadapi dunia modem dengan segala resikonya, sehingga mereka mudah
dipermainkan dan ditipu atau barangkali menjadi korban pemerasan oleh orangorang
yang lebih pintar. Meskipun hal tersebut sering tidak terasakan olehnya.
Mereka tidak tahu menahu tentang bentuk kredit, hukum tanah, atau cara
pemasaran yang "modern". Itulah salah satu akar terdalam dari ketidakadilan
dalam aneka ragam bentuk.

Sebagai akibat, lingkungan sosial sebagai tempat dimana anak-anak miskin
dibesarkan dan dididik ikut terpengaruh. Perkembangan kognitif, intelektual, dan
mental mereka dengan demikian juga ditentukan oleh segala keterbatasan tadi.
Dalam hal ini sangat kurang adanya "rangsangan mental" yang diperlukan. Apa
yang dibahas di lingkungan keluarga, luasnya tema yang disinggung, informasi
yang diteruskan secara spontan, cara hidup sehari-hari, semua itu seakan
terbelenggu dalam lingkungan yang miskin. Kondisi inilah yang sering membuat
kita pesimis. Karena bagaimanapun anak-anak miskin itu kelak menjadi penerus
orang tuanya. Paling tidak penerus keturunan moyangnya. Apakah mereka juga
akan menjadi penerus kemiskinan?
Lingkaran Setan
Pendapat umum mengatakan bahwa kalau kita ingin hidup layak, kita harus
bekerja. Di satu sisi, kalau kita mengupas tentang dunia pasaran kerja, masukan
pasaran tenaga kerja hampir seluruhnya berasal dari keluaran lembaga
pendidikan formal.
Kalaupun ada yang tidak melalui pendidikan formal, persentasenya sangat
kecil. Kalau demikian halnya, agar anak-anak miskin dapat memasuki dunia yang
lebih cemerlang, dunia yang bebas dari kemiskinan, mereka harus masuk ke
dalam lembaga-Iembaga pendidikan.

Sementara itu, apa yang kita lihat sekarang ini? Menyekolahkan anak-anak
bukan sesuatu yang murah dan mudah dijangkau. Dimana-mana kita tahu, biaya
sekolah makin mahal. Mungkin dari iuran sekolah atau SPP tidak begitu menyedot
biaya, akan tetapi untuk yang lain-lain seperti fasilitas-fasilitas penunjang, bukubuku
referensi dan sebagainya. Justru dari "yang lain-lain" inilah butuh biaya yang
tidak sedikit. Lalu bagaimana dengan si miskin ini.
Tentu saja hasil proses pendidikan dan terutama prestasi di sekolah tidak
dikondisikan oleh lingkungan ekonomis melulu. Berbagai faktor lain juga ikut
berperan. Kemiskinan meliputi "miskin banyak hal". Jadi tidak hanya berarti hidup
serba sederhana tetapi juga berupa kelaparan dan kurang gizi. Lebih buruk lagi,
keadaan miskin juga sangat mempengaruhi kehidupan dan suasana lingkungan
keluarga. Padahal justru lingkungan keluargalah yang merupakan tempat
pendidikan paling dasar yang diperoleh anak manusia untuk bekal di kemudian
hari.

Apa yang diabaikan selama masa pendidikan informal ini, lebih-Iebih pada
usia bawah lima tahun, yang pertama-tama menjadi tanggung jawab orang tua
dan keluarga. Di kemudian hari, paling-paling bisa sekedar diperbaiki dan
dilengkapi. Akibatnya akan nampak pula kegagalan pendidikan sekoIah.
Dan semua itu, tidak dapat disangkal bahwa memang terdapat semacam
"Iingkaran setan" yang sangat mendalam pengaruhnya antara keberhasilan
pendidikan di satu pihak dan kemelaratan di pihak lain. Pendidikan orang miskin
kurang berhasil karena mereka memang miskin. Dan sebaliknya, mereka tetap
miskin karena kurang berhasil dalam pendidikan.

Untuk menanggulangi kenyataan tersebut, tidak bisa diharapkan dalam
jangka waktu pendek. Tetapi justru karena itu perlu ditangani dan diusahakan
dengan sungguh-sungguh. Kondisi itu akhirnya hanya bisa dipecahkah dengan
memerangi kemiskinan itu sendiri. Semua usaha lain hanya bersifat menunjang
dan melengkapi.

Pemerataan
Usaha pemerataan yang selama ini dilakukan perlu dilihat kembali.
Pemerataan tidak hanya berarti semua saling merasakan, mencicipi, mengalami.
Pemerataan juga mengandung arti keseimbangan porsi. Inilah yang selama ini
banyak diabaikan.

Egoisme kelompok menjadi beralasan bila pemerataan yang dimaksud
terbatas pada konsep yang demikian itu. Permasalahan ini muncul karena
kemampuan melaju dan mengembangkan diri tidak sama. Yang miskin hampir
tidak pernah bisa berpacu dengan mereka yang berkecukupan. Keadaan seperti
ini tentu saja tidak pernah mengangkat kredibilitas kalangan miskin.
Lantas apa yang bisa dilakukan untuk memutus lingkaran setan ini. Apabila
kita kembali kepada asumsi di depan, bahwa masalah berpangkal dari struktur
institusional, maka pemecahan juga mesti berawal dari sana.
Berbagai kebijaksanaan yang ada selama ini tampaknya dirancang dengan
begitu seksama. Tetapi tidak jarang masih ditemukan bias disana-sini dalam
pelaksanaannya. Deregulasi, misalnya, ternyata belum bisa dirasakan kalangan
bawah. Sementara itu banyak kalangan berkekuatan ekonomi menganggapnya
sebagai suatu terobosan yang menguntungkan.

Disinilah tampaknya ada beberapa hal yang bisa disisipkan agar lingkaran
setan itu akhimya bisa putus. Taruhlah pendidikan menjadi pangkal yang akan
digarap. Untuk mengangkat mereka yang miskin bisa diangkat melaui tingkat
pendidikannya. Karena dana dari mereka sendiri sangat terbatas, maka
pendanaan perlu dibantu.
Di beberapa negara banyak muncul semacam yayasan yang bersifat sosial.
Tugasnya antara lain membantu penderita cacat, orang tidak mampu, dan
kalangan yang memang perlu dibantu. Yang perlu diacungi jempol adalah
kenyataan bahwa yayasan-yayasan tersebut banyak diprakarsai dan didanai oleh
orang kaya. Terlebih lagi banyak yang melakukan secara tulus ikhlas.
Pemerintah juga tidak tinggal diam menanggapi mereka yang mau berbuat
baik. Potongan pajak dan kemudahan diberikan sesuai dengan jasanya itu.
Dengan kata lain ada kepedulian timbal balik. Mungkinkah hal seperti ini dilakukan
disini?

Program anak asuh beberapa tahun lalu sebenarnya sangat baik. Tetapi
tidak banyak orang yang tahu perkembangannya kemudian. Secara sepintas
barangkali bisa disebut surut dari peredaran. Sungguh sayang. Meski demikian
benih itu sudah disebar.
Yang diperlukan sekarang tampaknya penataan kembali. Mereka yang
memiliki banyak dana, perusahaan raksasa, konglomerat atau apa namanya, bisa
membalas jasa baik pemerintah dengan melakukan hal serupa. Pemerintah tidak
mungkin menyangga semua beban. Tanpa harus meminta fasilitas istimewa
sebenamya mereka sudah sangat beruntung. Untuk apa segala kemajuan ini
kalau bukan untuk sesama?

*Faturochman, dosen Fak. Psikologi UGM, tugas belajar di Flinders University,
Australia. Ambar Widaningrum, Asisten Peneliti di Pusat Penelitian
Kependudukan UGM.



Apa itu MBS ?

Apa itu MBS?

MBS ialah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) .Program MBS ini akan diterapkan di 20 sekolah SD-MI dan SLTP-MTs di setiap kabupaten program MBS.

Tujuan Utama MBS?
Tujuan utama Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.
Apa itu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)?
· Dalam rangka Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) alokasi dana kepada sekolah menjadi lebih besar dan sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan sekolah sendiri.
· Sekolah lebih bertanggung jawab terhadap perawatan, kebersihan, dan penggunaan fasilitas sekolah, termasuk pengadaan buku dan bahan belajar. Hal tersebut pada akhirnya akan meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas.
· Sekolah membuat perencanaan sendiri dan mengambil inisiatif sendiri untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan melibatkan masyarakat sekitarnya dalam proses tersebut.
· Kepala sekolah dan guru dapat bekerja lebih profesional dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak di sekolahnya.
Komponen Manajemen Berbasis Sekolah
Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. Program ini terdiri atas tiga komponen, yaitu:
· Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
· Peran Serta Masyarakat (PSM), dan
· Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) di SD-MI, dan Pembelajaran Kontekstual di SLTP-MTs..
Kegiatan Program MBS
Kegiatan program MBS yang dilakukan di daerah meliputi hal-hal berikut:
· Pelatihan tim pelatih tingkat kabupaten
· Pelatihan sekolah dan masyarakat (kepala sekolah, guru dan masyarakat)
· Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) dan RAPBS oleh sekolah dan masyarakat
· Pelatihan untuk guru, termasuk pendampingan langsung di kelas oleh pelatih
Dana Operasional Sekolah
MBS perlu ditunjang dengan dana operasional sekolah, agar rencana yang dibuat oleh sekolah dan masyarakat dapat dilaksanakan. Saat ini dana yang diterima sekolah dari APBD pada umumnya sangat minim. Sekolah lebih banyak menerima dana dari Komite Sekolah. Jumlah dana dari APBD yang diberikan kepada sekolah secara langsung sangat perlu ditingkatkan.
Dampak MBS bagi Sekolah?
· MBS menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah.
· Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah.
· Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS, mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah, karena mereka senang belajar.




UU-BHP Ancaman bagi dunia pendidikan Indonesia

Saat ini saya baru mendapatkan pertanyaan seorang teman mengenai pendapat saya mengenai UU-BHP, terus terang saya bukan ahli hukum ataupun ahli pendidikan yang bisa dibilang pantas dan mampu untuk menjawab pertanyaan ini, tetapi saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan logika saya. Dari berita-berita di surat kabar ataupun situs dari Dikti serta Depdiknas saya membaca bahwa UU-BHP diadakan untuk meningkatkan kualitas Badan Pendidikan Indonesia untuk mampu memenuhi tuntutan Global yang menuntut kemandirian badan pendidikan Indonesia. Untuk itu saya akan memaparkan pendapat saya mengenai UU-BHP yang terbagi dari sudut pandang sbb:

Indonesia adalah negara sosial

Dalam pemahaman akan bentuk negara kita berdasarkan dasar negara dan UUD-45 sudah seharusnya bahwa pendidikan di Indonesia menjadi tugas negara yang memiliki nilai sangat strategis bagi pembangunan bangsa ke depan yang harus dilindungi dan didukung sepenuhnya oleh negara. Dalam pengertian dilindungi dan didukung sepenuhnya oleh negara adalah bentuk lama dari perguruan tinggi di Indonesia dimana di perguruan tinggi tetap bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat dan bukannya hanya bagi yang mempunyai uang ataupun dengan alasan subsidi silang sekalipun. Sebab dengan alasan tersebut secara tidak langsung apapun alasan untuk melepas perlindungan dan dukungan negara terhadap perguruan tinggi (dalam bentuk dana yang berdampak langsung terhadap rakyat Indonesia yang ingin menempuh ilmu di perguruan tinggi) sudah bertentangan dengan amanat dan tuntutan konstitusional. Dalam hal ini strategi terhadap pendidikan Indonesia harus sesuai dengan jiwa konstitusional (dasar negara dan UUD-45).

Tantangan global dan kemandirian badan pendidikan
Dalam pemahaman akan tantangan global serta kemandirian badan pendidikan dengan adanya perubahan dalam sistem pendanaan melalui UU-BHP justru melupakan salah satu faktor penting dalam pemahaman akan tantangan Global serta kemandirian tersebut. Dalam pemahaman akan tantangan global yang dimaksud adalah untuk meningkatkan jumlah rakyat Indonesia yang berpendidikan perguruan tinggi untuk bisa bersaing dalam dunia akademis dan dunia profesional secara global. Untuk itu justru negara justru berbeban untuk menambah quota kursi di perguruan tinggi serta mendukung rakyat untuk menempuh pendidikan tinggi, yang akan berakibat meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang berkualitas secara significant (bandingkan jumlah penduduk dan jumlah lulusan perguruan tinggi). Sedangkan dalam kemandirian badan pendidikan justru yang dibutuhkan adalah lepasnya campur tangan oknum negara dalam penentuan jabatan dan fungsi dalam dunia pendidikan tinggi, dan peningkatan kemandirian perguruan tinggi untuk menjalankan amanat pendidikan nasional dengan dukungan dan perlindungan dari negara yang bisa dipertanggung jawabkan akuntabilitasnya utk publik dan negara.

Jika yang dimaksudkan tentang tantangan global dan kemandirian adalah bentuk perguruan tinggi di luar negeri, maka yang saya pertanyakan adalah kebijaksanaan lokal negara yang melupakan faktor-faktor penting mengenai jumlah penduduk, jumlah lulusan perguruan tinggi yang sama sekali tidak sebanding dengan situasi di luar negeri. Belum lagi jumlah dana pendidikan mereka serta pengalaman dan akses serta fasilitas yang mereka miliki. Seringkali negara memang melakukan studi banding dengan bentuk badan pendidikan di luar negeri, tetapi mereka melupakan fakta-fakta sejarah yang penting mengapa badan-badan pendidikan di luar negeri bisa menjadi seperti itu, badan-badan pendidikan di luar negeri sudah mempunyai pengalaman ratusan tahun lebih tua dan merekapun sudah pernah di dukung sepenuhnya oleh negara masing-masing ratusan tahun lamanya sebelum akhirnya mereka bisa menjadi badan pendidikan yang mandiri secara dana dan organisasi pendidikan, sejalan dengan situasi negara masing-masing. Jadi jika yang dijadikan alasan adalah untuk bersaing dengan dunia pendidikan global maka alasan tersebut sama sekali tidak masuk akal.

Ancaman bagi dunia pendidikan Indonesia

Adapun ancaman yang paling penting bagi bangsa Indonesia adalah ancaman terhadap dunia pendidikan Indonesia. Jika dilihat dari pemahaman adanya UU-BHP ini serta akibatnya secara tidak langsung bagi rakyat Indonesia, maka yang terjadi adalah menurunkan peranan negara dalam dunia pendidikan (bertentangan dengan amanat konstitusi), menurunkan akses masyarakat tidak mampu terhadap dunia perguruan tinggi, walaupun mereka mampu untuk belajar di perguruan tinggi (jika dahulu ada 100 kursi di perguruan tinggi untuk 100 mahasiswa yang berhak masuk sesuai dengan kemampuan, maka sekarang perguruan tinggi berubah menjadi badan usaha yang mencari pemasukan untuk menutup biaya operasional yang ada sehingga 100 kursi yang ada akan di berikan kepada yang mampu membayar), menurunkan akses masyarakat ke perguruan tinggi yang berakibat melemahnya manusia Indonesia di persaingan global sebab negara bisa bersaing karena memiliki manusia-manusia yang berpendidikan (belum lagi jika diperbandingkan antara jumlah akademis dengan jumlah rakyat kita, jika diluar negeri hampir 30 - 40% rakyatnya sudah bergelar S1 dan mayoritas lulus SMU), bahkan dengan adanya kebebasan bagi pendanaan perguruan tinggi yang terbuka melalui sistem ekonomi global maka justru kemandirian dunia pendidikan Indonesia hanya bergantung pemilik modal semata (bahkan pemilik modal luar negeri) sehingga yang terjadi adalah bentuk imperialisme baru melalui sistem kapitalisme yang dari dahulu sudah di tentang oleh para pendiri bangsa ini (founding fathers kita), belum lagi ancaman hilangnya ciri khas pendidikan Indonesia yang mempunyai muatan adat-istiadat, moral yang religius.

bahkan dalam gerakan perjuangan bangsa Indonesia para pilar-pilar negara serta founding fathers kita justru menekankan pendidikan sebagai ujung tombak pembangunan negara kita yang harus dilindungi dan harus didukung oleh negara.

Demikianlah kiranya tulisan saya kali ini, mungkin tidak bisa menjawab tetapi saya berharap bisa dijadikan bahan pertimbangan. Dan dibawah ini saya sertakan cuplikan tulisan dari Jurnal Indonesia Merdeka mengenai pendidikan massa baik untuk angkatan muda maupun kaum dewasa:

"Rakyat kita diperlakukan dan dibiarkan dungu. terserah pada kita untuk merubah keadaan itu dan memperbaikinya. Sekolah-sekolah rakyat yang pertama-tama harus kita selengarakan; di tempat-tempat itu pemuda-pemuda Indonesia di bawah bimbingan orang ahli berkumpul hampir setiap hari....... Pendidikan terutama sekali harus menyadarkan pemuda bahwa tujuan hidupnya adalah kemerdekaan Tanah Air. Dengan cara demikian kita memupuk warga negara yang cakap, yang siap berjuang untuk hadiah yang tertinggi bagi Tanah Air kita."

nb: perguruan tinggi yang dimaksudkan di titik beratkan kepada perguruan tinggi negeri

Christian Santoso
HBO-V Student Haagse Hogeschool Den Haag



Kurikulum berbasis kompetensi sekolah – Dihadang Waktu

Oleh : Ahmadi Haruna

Memasuki tahun ajaran 2006/2007 sekolah diberi kebebasan dan menentukan pola pembelajarannya masing-masing. Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan nomor 22, 23 dan 24, sekolah diberikan otonomi untuk membuat kurikulum pendidikan yang akan diterapkan.
Kurikulum yang baru ini mengacu pada kurikulum 2004 yang merupakan kurikulum nasional berdasarkan standar isi dan kompetensi. Atau disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan dasar diatas, maka setiap sekolah diwajibkan untuk membuat kurikulum bekerjasama dengan Komite Sekolah dan ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Kebijakan menyerahkan pembuatan kurikulum kepada pihak sekolah, agar segala kemampuan dan kreativitas siswa dapat tergali. Sebab sekolah yang bersangkutanlah yang mengetahui betul kondisi anak didiknya. Peran pemerintah dalam penetapan kurikulum ini, hanya sebatas pada menentukan standar minimum secara nasional yang harus dicapai oleh setiap sekolah pada akhir semester. Selain itu, dengan kebijakan ini maka kurikulum yang dipakai di tiap sekolah bisa saja berbeda, sehingga tidak ada lagi buku wajib untuk sebuah mata pelajaran.
“Sekolah diharapkan sudah menerapkan kurikulum baru ini pada tahun ajaran yang sudah berjalan sekarang ini. Sekolah yang belum mampu, untuk sementara bisa menggunakan kurikulum sebelumnya,”ujar Kasi Kurikulum Subdin Menum, Drs. Mukhlis P. Msi. Menurutnya kendala utama dalam pemberlakuan kurikulum baru ini adalah mepetnya waktu. Sehingga sampai saat ini belum ada sekolah yang bersedia dan siap dengan kurikulum tersebut. Sedangkan -menurutnya, seluruh elemen sekolah harus dilibatkan untuk pembuatannya, sementara proses belajar mengajar untuk tahun ajaran baru ini sudah berjalan.
Selain itu, kemampuan guru untuk membuat kurikulum saat ini belum merata. Untuk itu, kata Mukhlis, pihak Dinas Pendidikan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 24 memberikan waktu hingga tahun ajaran 2009/2010. Kurikulum tersebut sudah harus di buat oleh setiap sekolah.
“Disinilah partisipasi Dinas Pendidikan untuk memberikan masukan dan penyegaran dalam rangka pembuatan kurikulum baru tersebut. Diminta kepada seluruh Dinas Pendidikan Kota untuk memploting pelaksanaan kurikulum baru ini,” jelasnya.
Untuk awal tahun ajaran ini, husus di Sulawesi Selatan, kata Mukhlis, sekolah yang diharapkan untuk menjalankan kurikulum ini adalah sekolah yang menjadi pilot project Dinas Pendidikan Sul-Sel. Sekolah tersebut diantaranya adalah, SMA 5, SMA 3, SMA 2 Tinggimoncong. Sedangkan untuk tingkat SMP ialah SMP Athirah, SMP 6, SMP 1 Pallangga, SMP 1 Bontomarannu, SMP 1 Mandai.
Adapun mekanisme pembuatan kurikulum tersebut, rancangan yang telah dibuat oleh masing-masing guru mata pelajaran, diserahkan kepada kepala sekolah untuk diperiksa dan ditandatangani, rancangan tersebut kemudian diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kota untuk disahkan menjadi kurikulum. Sedangkan untuk SMA pengesahannya dilakukan di Diknas Propinsi.
“Salah satu syarat kurikulum ini adalah, waktu belajar dalam seminggu tetap 32 jam, terserah sekolah ingin menambah pelajaran lain tapi tidak boleh mengurangi pelajaran yang sudah ada,” jelas Mukhlis.

Diversifikasi Kurikulum
Kebijakan penyerahan pembuatan kurikulum kepada sekolah, sangat memungkinkan adanya perbedaan kurikulum antara sekolah satu dengan sekolah yang lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan juga sekolah melakukan kerjasama dalam pembuatan kurikulum.
Disverifikasi kurikulum memang dipastikan terjadi. Untuk itu, diterapkan standar minimum yang harus dicapai oleh sekolah dalam setiap semesternya. Pembuatan soal untuk ujian, misalnya ujian nasional yang dilaksanakan Diknas pusat berpatokan pada standar tersebut, sehingga penilaiannya merata pada seluruh siswa.
Selain itu, tidak dapat dipungkiri akan ada kesenjangan kemampuan siswa antara sekolah unggulan dan non unggulan, sealain kemampuan siswa yang berbeda, kompetensi guru yang memberikan pelajaran juga berbeda. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kembali lagi kepada aturan penetapan standar kompetensi minimum. Sekolah yang selama ini kemampuanya berada dibawah standar kompetensi, diwajibkan untuk bisa mencapai kompetensi standar tersebut dan akan ditingkatkan secara berkala.
Bagaimana jika standar kompetensinya tidak dicapai oleh sekolah?, konsekuensinya adalah siswanya tidak akan lulus. Sebab, standar minimum tersebut ditetapkan setelah melihat kemampuan sekolah.
Untuk penanganan sekolah yang berada di daerah terpencil dengan jumlah guru yang minim, diserahkan sepenuhnya kepada Dinas Pendidikan Kota untuk menangani kurikulumnya.
Ini adalah untuk pengembangan dunia pendidikan kita, sekolah yuang bersangkutanlah yang mengetahui potensi bakat yang dimiliki siswanya sehingga diserahkan sepenuhnya penanganan kurikulumya.






Tips : Jembatan Menuju Anak yang Cerdas dan Unggul

Jika pada zaman dahulu mewariskan harta yang tak habis selama tujuh turunan dapat membuat orang tua merasa tenang akan masa depan anaknya, maka dewasa ini hal itu telah digantikan pendidikan. Harta suatu ketika bisa habis, tapi pengetahuan dan keterampilan-yang diperoleh melalui pendidikan- tidak akan pernah hilang. Oleh karena itu, banyak orangtua rela berkorban apa saja, asalkan anaknya memperoleh pendidikan yang baik. Dan, kalau bisa, sejak saat dini.
Bicara soal pendidikan anak sebenarnya tidak cukup sebatas menempa kemampuan kognitif, penumpukan pengetahuan, atau sekedar meningkatkan potensi intelegensi atau Intellegence Quotient (IQ). Sosialisasi dan pembentukan Emotional Intelligence (EI) menjadi hal lain yang harus diemban oleh sistim pendidikan. Akan halnya penanaman nilai-nilai yang disertai pemahaman budi pekerti sehingga tujuan utama pengajaran dan pendidikan hingga seorang manusia yang dewasa dan mandiri bisa dicapai
Dengan demikian dalam belajar seorang anak bukan hanya menghafal, mengingat, dan mengerti teori tapi diharapkan juga mampu mengaplikasikan semua itu dalam kehidupan nyata. Dalam istilah UNESCO belajar itu adalah to know, to do, to be, dan to live together.
PARADIGMA PENDIDIKAN
Antarina SF Amir, Managing Director High/Scope Indonesia mengatakan bahwa semua bentuk pendidikan, baik itu formal maupun informal harus dipersiapkan mendidik seorang individu dalam membuat sebuah pilihan dan keputusan-terbaik dan terburuk-yang didasarkan atas pengetahuan yang didapat di sekolah, masyarakat, keluarga, teman, atau dari literatur-literatur. Sehingga dengan demikian kedewasaan dan kemandirian seorang individu bisa terwujud.
Lebih jauh Ia menerangkan bahwa ada dua paradigma besar yang ada di dalam dunia pendidikan, pertama adalah paradigma behavioristik-yang melihat bahwa proses belajar itu adalah seperti tingkah laku, jadi harus dilakukan berulang-ulang sampai manusia itu mampu, dan paradigma konstruktivis yang mengatakan bahwa seseorang bisa membangun pengetahuannya sendiri dan bukan dibentuk oleh orang lain.
“Kalau sistim dulu, kita belajar itu gurunya berdiri dan menerangkan, terus diberi latihan. Kalau bisa ikuti apa kata guru berarti kamu berbakat. Hasil dari teori ini academic achievement-nya tinggi, test score-nya tinggi, tapi dia jadi professional yang skilled worker. Kemudian orang mulai beranjak, orang sudah mulai berubah bahwa belajar itu menyangkut investigasi dan bertanya. Jadi anak berbakat menurut teori pembelajaran ini (konstruktivis) adalah yang kreatif dan produktif. Dan hasil akhirnya menjadi penemu, desainer yang kreatif dalam bidang science, art dan teknologi, menjadi pemimpin yang inovatif dan menjadi entrepreneur,” terang Antarina
Paradigma konstruktivis inilah yang kemudian membuka wacana baru tentang cara belajar yang demokratis di mana antara guru dan murid bisa saling terjadi proses belajar dan mengajar. Guru bukan satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan di kelas, anak bisa diberi kemandirian untuk belajar dengan memanfaatkan beragam sumber belajar yang memadai, diberi peneguhan dan motivasi.
Demokratisasi pembelajaran, yang beberapa waktu lalu dipromosikan melalui pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), telah membawa tantangan baru bagi profesi guru. Menurut Komisi Internasional tentang pendidikan di Abad ke-21 UNESCO (Delors, 1996) aneka perubahan besar dalam ilmu dan teknologi dewasa berimplikasi pada penyiapan tenaga guru. Di abad ini sumber-sumber informasi telah berkembang pesat di luar sekolah dengan cara yang begitu menarik dan ketika memasuki sekolah siswa telah memiliki kekayaan informasi itu. Pesan-pesan media yang dikemas dalam bentuk hiburan, iklan, atau berita sungguh menarik para siswa dan ini bertolak belakang dengan pesan-pesan yang dikemas para guru dalam pembelajaran di kelas.
Akibatnya, para guru di abad informasi ini memiliki tugas berat untuk merangsang kembali minat siswa terhadap pesan-pesan pembelajaran yang dilakukan di kelas dengan membuat peristiwa pembelajaran di kelas semenarik kemasan pembelajaran yang dijumpai di luar kelas.
Ditahap Pendidikan
Mengingat demikian pentingnya pendidikan, maka perlu kiranya untuk mengetahui tahap-tahap apa saja yang harus dilalui oleh seorang anak dalam pendidikan, mulai taman kanak-kanak hingga bangku perguruan tinggi.
“Sekolah yang ideal, waktu TK seorang anak harus dikuatkan kemampuan social dan emosional. Boleh diajari baca dan tulis tapi dengan menari atau menyanyi. Di sini juga disiapkan kemampuan social emosionalnya seperti kepercayaan diri, indenpendensi, inisiatif, bagaimana bersosialisasi dengan orang lain, dan bagaimana mengekspresikan pendapat,” tandas Antarina.
Tahap berikutnya-yaitu pada saat anak duduk di sekolah dasar-mereka akan menerima materi pendidikan yang lebih terstruktur yaitu tentang kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Demikian pula saat masuk ke sekolah menengah (SMP dan SMU), seorang anak perlu diasah kemampuan analisisnya.
“Sampai di perguruan tinggi kita focus pada konsep pengambilan keputusan. Keputusan di sini dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita S1, S2, dan S3, itu background ilmu yang akan memengaruhi kita saat mengambil keputusan. Misalnya untuk yang di ekonomi akan berfikir tentang cost dan benefit, supply dan demand. Seorang psikolog mengambil keputusan karena dia melihat dan mempelajari terlebih dahulu tingkah laku seseorang, atau seorang civil engineer yang melihat struktur bangunan,” terang Antarina.
Pada akhirnya, harus diakui bahwa pendidikan memiliki begitu banyak unsur yang saling mempengaruhi. Sebut saja kurikulum, proses pembelajaran, sarana dan prasarana, serta hal lainnya. Akan tetapi yang pasti bimbingan orangtua memegang peran yang sangat penting, termasuk dalam memberikan les atau kursus tambahan pada mereka.
“Kalau materi pendidikan ada what and how. What adalah kurikulum dan how adalah metode. Tapi factor yang mampu membuat how ini bisa berjalan ada beberapa, antara lain bagaimana membuat suasana antara sekolah dengan rumah itu sejalan, kurikulum, learning method, lingkungan sekolah, faktor dari si anak seperti gizi dan lingkungan. Anak juga jangan terlampau diberi banyak kursus karena mereka butuh waktu untuk dirinya sendiri. Pilih satu atau dua hal yang merupakan power untuk diberi pendalaman itu tidak apa-apa. Tapi jangan ambil semua waktu, karena belajar bukan hanya didalam kelas, tapi dimana saja, dan kapan saja. Belajar yang paling baik adalah kalau datang dari diri sendiri,” ujar Antarina.



Membaca dan Agresivitas

Majalah Child Development (Januari/Februari 2006) menerbitkan hasil penelitian tentang hubungan antara kemampuan membaca dan sikap agresif siswa sekolah dasar. Selama enam tahun (1996-2002), Sarah Miles dan Deborah Stipek dari Stanford University School of Education, California, Amerika Serikat, meneliti dan mengikuti perkembangan 400 anak TK Dan SD di pedesaan dan wilayah kota miskin di AS. Warna desa dan kemiskinan dipilih karena di lingkungan itu pendidikan anak-anak mudah terpuruk dan terabaikan.
Hal menarik dari penelitian Miles dan Stipek adalah ada keterkaitan antara tingkat kemampuan membaca dan tingkat agretivitas. Dalam penelitian ini, sikap agresif dibatasi dengan empat golongan, ”suka berkelahi”, ”tidak Sabaran”, ”suka mengganggu”. Dan ”kebiasaan menekan anak lain” (bullying).
”Anak-anak kelas 1 SD, yang kemampuan membacanya relative rendah, saat dikelas 3, cenderung memiliki tingkat agresivitas tinggi. Juga anak-anak kelas 3, yang memiliki kemampuan membaca rendah, cenderung memiliki sikap agresif tinggi saat dikelas 5,” ungkap Miles dan Stipek. ”Mungkin, bersamaan dengan tingkat pergaulan mereka, anak-anak yang kemampuan membacanya rendah itu frustasinya kian menumpuk. Keadaan ini yang membuat mereka agresif,” tambah kedua peneliti itu.
Sebaliknya, ada keterkaitan antara sikap social dan kemampuan membaca. Yang dimaksud sikap sosial adalah ”suka menolong”, ”mengerti perasaan orang lain”, ”punya empati”, ”punya perhatian kepada yang susah”. Anak-anak memiliki sikap social yang baik saat di TK dan kelas 1 SD biasanya lebih mampu mengembangkan kemampuan membacanya di kelas 3 dan kelas 5 SD, begitu kesimpulan Miles dan Stipek.
Hasil penelitian menyimpulkan pentingnya pendidikan dan pengajaran yang efektif dalam kemampuan membaca pada jenjang-jenjang awal SD, ank-anak yang kemampuaan membacanya rendah perlu diberi perhatian istimewa melalui bantuan pribadi atau sistim pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Penelitian soal kemampuan membaca ini memang hanya pada anak 5-9 tahun. Bagaimana dengan anak 9-14 tahun? Apakah tingkat kemampuan membaca mereka mempengaruhi kehidupannya dimasa depan? Apakah pemakaian pengertian ”kemampuan membaca”, sebagai tolak ukur, untuk ank usia 5-9 tahun dapat dipakai untuk menilai anak umur 9-14 tahun?
PISA
Programme for Internasional Student Assesment (PISA) adalah proyek Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Tujuan proyek untuk mengukur tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan anak usia 14-15 tahun (usia akhir wajib belajar) sebelum dewasa. Pesertanya, anak-anak dari 29 negara maju dan beberapa Negara berkembang. Dari tiap Negara, diteliti 4.500-10.000 anak.
Penelitian PISA dilakukan tiap tiga tahun dengan focus berbeda-beda, tetapi tetap saling berhubungan. Fokus tahun 2000 (32 negara) adalah reading literacy (kemampuan memahami bacaan). Fokus tahun 2003 (40 negara), mathematical literacy (kemampuan memahami matematika) dan problem solving. Lalu focus tahun 2006 (57 negara), scientific literacy (kemampuan memahami sains). Pada setiap penelitian, hasil focus terlebih dahulu diteliti ulang. Dalam tiga penelitian PISA, meski diluar Negara-nagara OECD, Indonesia selalu ikut serta.
Hasil penelitian terakhir tahun (2003), dari 40 negara, Indonesia berada pada tingkat terbawah pada kemampuan membaca. Tiga besar teratas diduduki Finlandia, Korea, dan Kanada. Bagi Indonesia, ini berarti dari lima tingkat kemampuan membaca model PISA, kemampuan anak-anak Indonesia usia 14-15 tahun baru pada tingkat satu. Artinya, hanya mampu memamahami satu atau beberapa informasi pada teks yang tersedia. Kemampuan untuk menafsirkan, menilai atau menghubungkan isi teks dengan situasi diluar terbatas pada pengalaman hidup umum.
Akibatnya, mereka akan sulit memakai kemampuan membaca untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan bidang lain. Atas keadaan ini muncul dua akibat.
Pada usia 19-20 tahun, mereka mungkin baru mampu menyelesaikan SMA-nya. Atau jika pada usia itu sudah bekerja, besar kemungkinan untuk tersisih dipersaingan lapangan kerja.
Sistim semacam ini tentu mudah menyebabkan harga diri anak turun dan memicunya untuk memusuhi masyarakat dan lingkungan sekitar (Rutter dan Giller, 1983). Situasi kejiwaan semacam inilah yang mudah meningkatkan sikap agresif (Malden, Blackwell, dan Pitkanen, 1969).
Perubahan
Sejak dasawarsa 1990-an, konsep tentang kemampuan membaca sudah berubah. Kini, kemampuan membaca dipandang sebagai sebuah proses konstruksi dan interaksi. Pembaca adalah orang yang aktif membangun makna, memahami strategi membaca yang efektif, dan mengetahui bagaimana merefleksikan bahan bacaan (Langer, 1995;Clay, 1991). Minimal ada tiga aspek kemampuan membaca, yaitu aspek ”proses memahami”, ”tujuan membaca”, dan ”sikap dalam membaca”. Di sini tekananya tidak lagi ”belajar membaca”, tetapi ”membaca untuk belajar (hidup)”.
Dari sudut pandang ini, gerakan membaca hendaknya dimulai dan dipelihara sejak dini, dari rumah, perpustakaan, sekolah, dan ekologi media. Standar idealnya, orangtua membacakan bacaan kepada anaknya sejak di kandungan hingga TK. Penelitian menunjukkan, seorang anak bisa mendapat 4.000-12.000 kosakata baru dalam setahun melalui buku-buku yang dibacakan untuknya. Allan E Cunningham dan Keith E Stanovich (1998) menunjukkan, jumlah kata-kata baru pada buku anak-anak 50 persen lebih banyak daripada jumlah kata-kata baru yang diucapkan pada prime-time acara tv dewasa atau pada percakapan lulusan universitas.
Selain di keluarga, di sekolah perlu ada perpustakaan. Asosiasi Membaca Internasional (1999) menyarankan, jumlah ideal buku di perpustakaan sekolah adalah 20 kali jumlah murid. Adapun untuk perpustakaan di kelas, idealnya ada tujuh buku untuk satu murid. Bagi Indonesia, ini bukan sesuatu yang mustahil. Membangun kemampuan membaca adalah bagian dari mendidik, terus dilakukan tanpa henti.



Peran Blog di Dunia Pendidikan

Dewasa ini blog telah menjadi gaya hidup. Kegiatan blogging telah menjamur di mana-mana dari berbagai kalangan dan setiap elemen masyarakat. Entah itu hanya sebagai buku harian, ungkapan opini, ide, kreatifitas hingga untuk meraup penghasilan lebih dari berbagai macam bisnis dunia maya.
Dengan munculnya keragaman dalam dunia blog senidiri maka terciptalah sebuah dunia maya yang sangat kompleks dan saling melengkapi tak jauh bedanya dengan dunia nyata. Dengan mendapatkan informasi dengan cepat, media sosialisasi (online), mempererat persahabatan, membangun sebuah komunitas, hingga menambah penghasilan dan lain sebagainya. Dari situlah blog bisa menjadi sebuah candu bagi seseorang, hingga tak heran kalau ada seseorang yang rela manghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya (baca:blogging)
Nah, melihat fenomena blog ini, sebenarnya bisa kita manfaatkan dengan maksimal untuk dunia pendidikan. Pengalaman saya sendiri sewaktu masih duduk di bangku sekolah, saya merasa jenuh dengan cara penyampaian materi pelajaran di kelas, sangat membosankan dan hal itu pun tak jauh berbeda dengan yang dirasakan teman-teman. Tidak sedikit dari mereka yang berharap semoga lekas pulang dan segera melakukan aktifitas lainnya.
Dari situ, seandainya para guru punya inisiatif untuk menunjang materi pelajaran lewat blog, pasti akan sangat menyenangkan, dan saya rasa itu adalah cara yang efektif untuk meningkatkan minat belajar para siswanya. Ya, bisa juga kan, misalnya seorang guru memposting suatu permasalahan atau materi pelajaran yang disusun dalam suatu bahasa yang formal tetapi lebih santai. Para siswanya kemudian bisa blogwalking ke blog tersebut dan kegiatan belajar mengajar pun bisa menjadi lebih menyenangkan.
Materi pelajaran sekolah yang diposting melalui media blog bisa menjadi sebuah konten hebat yang bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan. Selain memperkenalkan teknologi internet di kalangan pelajar dan pengajar, juga bisa menjadi terobosan baru di dunia pendidikan. So, tunggu apa lagi, teknologi yang semakin canggih ini asal dimanfaatkan semaksimal mungkin, diharapkan dapat menghasilkan suatu perubahan besar, tidak hanya di bidang pendidikan, bahkan mencakup semua bidang.

Sumber : http://johan89.blog.telkomspeedy.com/2009/01/22/peran-blog-di-dunia-pendidikan/


Buku adalah 'dokumentator' handal

Oleh : Ahmadi Haruna

Seorang ahli sejarah dan ilmu pengetahuan berkebangsaan Skot­landia Thomas Carlyle Mengatakan "In book lies the soul of the whole past time. The true Universi­ty of these days is collection or boo­k".(Artinya: dalam buku terkan­dung jiwa seluruh masa lampau. Kini Universitas yang sejati me­rupakan suatu koleksi daripada buku-buku). Para bijakpun: buku adalah 'gu­ru' yang tak pernah merasa bosan dan jenuh. Buku selalu siap sedia-­ibarat Udara, kapan dan dima­na saja kita berada tanpa mengenal waktu, ruang, siap dihirup, ketimbang dengan guru, dosen dan nara sumber lainnya yang memakai 'ti­me schedule' untuk berkonsultasi.

Ada sebuah pepatah berbunyi : "A book is like a garden carried in the pocket". Ku­rang lebih maknanya : sebuah bu­ku bagaikan sebuah taman di da­lam kantung. Sebuah buku me­mang bagaikan pohon yang sarat buah-buahnya yang tak henti­ -hentinya dapat dipetik dan di­gunakan.
Pepatah diatas, menggariskan, de­ngan buku kita dapat menjelajah ke seluruh pelosok dunia tanpa mengenal batas waktu maupun tempat. Lewat fantasi yang disu­guhkan pengarang dalam karya­nya, seolah kita berada dalam se­buah taman. Taman yang ditumbu­hi berbagai ragam bentuk, wama, aneka 'bunga' pengetahuan.

Jika kita meng­kaji dan mengupas, sesungguhnya benda yang namanya buku adalah gudangnya ilmu, terdapat beraneka ragam ilmu pengetahuan. Buku telah mela­hirkan intelektual-intelektual briliant dunia, bahkan melahirkan ban­dit-bandit intelektuaI. Buku adalah 'dokumentator' handal, lewat bu­ku kita dapat mengetahui peristiwa masa Ialu, peristiwa sekarang dan mampu mengesti­masi penstiwa-peristiwa yang ba­kal dan terjadi di masa datang.

Buku adalah pe­nemuan manusia yang sungguh hebat, kare­na buku ialah sebuah penemuan atau buah pikiran yang tak tersapu oleh waktu , buku ialah ilham yang menyumbang perkembangan peradaban tak hi­lang di telan sejarah, tetapi ikut membentuk jalannya sejarah. Maka dari itu rugilah kita jika tidak memiliki rasa cinta terhadap buku dan tentunya juga harus dibarengi dengan niat untuk mempelajarinya.



Guru, elemen yang terlupakan

Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.
Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.

sumber : http://pendidikanindonesia.blogspot.com


Konstribusi Komite Pada Satuan Pendidikan

Acuan operasional pembentukan Komite Sekolah berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 044/U/2002 dan UU No. 22 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, maka dengan sendirinya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0293/U/1993 tentang Pembentukan Badan dan Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) dinyatakan tidak berlaku (Pasal 3 Kepmendiknas No. 044/U/2/2002).
Komite sekolah adalah mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri dan independent yang mewadahi adalah masyarakat tidak mempunyai hubungan hirarkis dengan Dewan Pendidikan maupun dengan lembaga pemerintahan, tetapi dapat mengadakan koordinasi dan kerjasama dengan Dewan Pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan layanan pendidikan.
Jika komite sekolah ini dapat dijalankan dengan menjauhkan rasa arogansi berarti proses dan pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah akan berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip demokratis. Ini berarti menjadikan pendidikan berakar pada masyarakat yang tentunya mempunyai sustainability yang handal, juga menjadikan lingkungan sekolah menjadi labolatorium dan contoh mikro dari realisasi masyarakat madani, sebab dengan demikian masyarakat sekolah berarti menjalankan fungsi legislative, eksekutif, partisipasi, transparansi dan akuntabilitasi.
Tujuan Komite Sekolah
1. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan.
2. Meningkatkan tanggung jawab dan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
3. Menciptakan suasana dan kondisi transparansi, akuntabel dan demokratis dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan pendidikan bermutu.

Peran Komite Sekolah
1. Memberi pertimbangan (advisori agency) dalam penentuan dan pelaksanaan Kebijaksanaan pendidikan di satuan pendidikan.
2. Pendukung (supporter agency) baik yang berwujud financial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3. Pengontrol (kontroling agency) dalam rangka transparansi, akuntabilasi penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
4. Mediatorantara pemerintah dan masyarakat disatuan pendidikan.

Fungsi Komite Sekolah
1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/DUDI), dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan masyarakat.
4. Memberi masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai ; (a) Kebijakan dan program pendidikan, (b) Rencana Anggaran Pendidikan Belanja Sekolah (RAPBS), (c) Kriteria kinerja satuan pendidikan, (d) Kriteria tenaga pendidikan, (e) Kriteria fasilitas pendidikan, (f) Hal-hal lain yang terkait dengan dunia pendidikan.
5. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung pendidikan mutu dan pemerataan pendidikan.
6. Menggalang dana masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pembiayaan pendidikan di satuan pendidikan.
7. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadapkebijakan, program, penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.

Peran dan fungsi seperti yang diuraikan di atas merupakan sumber rujukan utama untuk penjabaran kedalam kegiatan operasional Komite Sekolah pada satuan pendidikan seperti misalnya ;
1. Peran dalam memberi pertimbangan, dijabarkan dalam kegiatan :
a. Mengadakan pendataan dan menganalasis kondisi sosial ekonomi keluarga peserta didik dan sumber daya pendidikan masyarakat.
b. Memberi pertimbangan/masukan tentang pengembangan MULOK dan PAKEM serta ada penyusunan VISI, MISI, TUJUAN, KEBIJAKAN, RAPBS, dan proposal kegiatan sekolah lainnya.
2. Peran sebagai supporting dijabarkan dalam kegiatan :
a. Membantu sekolah dalam penggalangan dana masyarakat dan dunia usaha dan industi untuk biaya pembebasan uang sekolah bagi siswa keluarga tak mampu, dan keperluan pembiayaan sekolah lainnya.
b. Memberi dukungan kepada sekolah untuk secara preventif dan kuratif dalam pemberantasan dan penyebarluasan narkoba di sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler.
c. Mengadakan kegiatan inovatif untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen masyarakat untuk peduli pendidikan.
3. Peran sebagai mediator, dijabarkan dengan kegiatan mengadakan penjajakan tentang adanya kemungkinan untuk dapat mengadakan kerjasama atau MoU dengan lembaga lain untuk memajukan sekolah.
4. Peran sebagai kontroling dapat dijabarkan dengan mengadakan rapat insidentil dengan kepala sekolah, guru-guru di sekolah serta kegiatan penelusuran kegiatan alumni.
Keterlaksanaan dan keberhasilan kegiatan operasional Komite Sekolah menjadi ukuran kinerja. Dengan kata lain, jika komite sekolah telah melaksanakan semua kegiatan operasional dengan sempurna, melengkapi dan mendayakan fasilitas organisasinya secara rutin dan optimal, maka komite sekolah dapat dinilai telah banyak memberikan konstribusi pada satuan pendidikan dan telah memiliki kinerja yang tinggi untuk peningkatan kualitas pendidikan.



 

Suara Hati

Pendidikan. . . .Artikel. . . . Politik . . . . Berita. . . . Puisi. . . .

Contact