Karya : Ahmadi Haruna
Air mata jatuh
Basah kebaya
Oang tua berdoa tanpa pamrih
Pada anaknya
Air mata jatuh
Basah dipipi
Anak doa pada orang tuanya
Tulus penuh kasih sayang
Ibunda
Maafkan aku
Hanya cinta yang bisa kuberi
Hingga hari ini.
Jangan sedih
Aku selalu setia mengenangmu
14 Februari 2006
Sumber : Buku Kumpulan Puisi Ahmadi Haruna
Pantun Perempuan
Posted by
Bulo'a
, at 1:53 AM, in
Labels:
Puisi
Karya : Ahmadi Haruna
kucing kurus mandi dipapan
bukan kurus karena kurang makan
namun ingat sibuah hati
wanita sekarang ceking ceking barata sayang
bukan ceking lantaran cinta
namun ceking karena emansipasi
tak ada rotan akarpun jadi
saat ini tak ada akal ototpun jadi
tiba masa tiba akal
saat ini tiba musibah kehilangan akal
bersakit-sakit dahulu
bersenang- senang kemudian
itu kata pepatah kuno
saat ini senang dahulu
sakit akhirnya bukan masalah
putus cinta lahirkan hati patah
saat ini putus cinta gaet yang lain
karena cinta badan binasa
badan berdua soal biasa
Januari 2004
kucing kurus mandi dipapan
bukan kurus karena kurang makan
namun ingat sibuah hati
wanita sekarang ceking ceking barata sayang
bukan ceking lantaran cinta
namun ceking karena emansipasi
tak ada rotan akarpun jadi
saat ini tak ada akal ototpun jadi
tiba masa tiba akal
saat ini tiba musibah kehilangan akal
bersakit-sakit dahulu
bersenang- senang kemudian
itu kata pepatah kuno
saat ini senang dahulu
sakit akhirnya bukan masalah
putus cinta lahirkan hati patah
saat ini putus cinta gaet yang lain
karena cinta badan binasa
badan berdua soal biasa
Januari 2004
Kartini - Kartini
Posted by
Bulo'a
, at 1:10 AM, in
Labels:
Puisi
Karya : Ahmadi Haruna
Menangis diatas trotoar
Menari dipinggir trotoar
Makan diemper toko
Minum dengan tong kusam
Mata liar memandang arus
Memohon kasih untuk rupiah
Recehan jatuh dikaleng susu
Ibunda siap menghitung untung
Hari ini
Besok – lusa, entah sampai kapan
Ia tetap setia berdiri disana
Ah, kartini cilik
“mari bersekolah”
April 2006
Menangis diatas trotoar
Menari dipinggir trotoar
Makan diemper toko
Minum dengan tong kusam
Mata liar memandang arus
Memohon kasih untuk rupiah
Recehan jatuh dikaleng susu
Ibunda siap menghitung untung
Hari ini
Besok – lusa, entah sampai kapan
Ia tetap setia berdiri disana
Ah, kartini cilik
“mari bersekolah”
April 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)