SUARA HATI
this site the web

Recent Photos

image
image
image

Undang-Undang Lalu Lintas 2009


Waspada sebelum dirazia, perhatikan UU terbaru yang menggantikan UU tahun 1992, UU Nomor 22 Tahun 2009. Undang-Undang yang sudah ditandatangani  Presiden SBY pada tanggal 22 Juni 2009, memuat antara lain:

Tidak Memiliki SIM
Menurut Pasal 281, apabila pengendara kendaraan bermotor tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) bisa dikenakan denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). Atau di pidana kurungan paling lama 4 bulan. Jadi, selalu bawa SIM Anda setiap kali Anda mengendarai motormu.

Mengemudi Tidak Konsentrasi
Hati hati juga buat biker yang suka menelpon sambil mengendarai motor bisa kena sanksi pasal 283, menurut pasal ini  bagi yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).

Kelengkapan Motor
Bagi pengendara roda dua di Jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban, mengacu pada Pasal 285 dapat dikenai denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) atau pidana kurungan paling lama 1 bulan.

Rambu dan Markah
Jangan abaikan rambu dan markah jalan, karena di Pasal 287 Pengendara motor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas sebagaimana dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

Tidak Bawa STNK
Nah, buat biker yang suka lupa bawa STNK harap waspada, karena menurut Pasal 288, setiap pengendara roda dua di Jalan yang tidak dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor atau surat tanda coba Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).
  
Helm Standard Buat Penumpang dan Pengemudi
Selalu pakai helm SNI saat mengendarai sepeda motor, baik pengemudi maupun penumpang motor. Karena menurut Pasal 291, bagi setiap pengemudi dan penumpang Sepeda Motor yang tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia (SNI) dipidana dengan pidana kurungan paling lama sebulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Menyalakan Lampu Utama Malam atau Siang Hari
Selalu nyalakan lampu utama motor Anda di Jalan pada siang maupun malam hari. Karena menurut Pasal 293, karena jika Anda tidak menyalakan lampu utama pada motor Anda di malam hari, Anda bisa dikenakan dipidana dengan pidana kurungan paling lama sebulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Bila sebelumnya ligh on disiang hari hanya dianjurkan, sekarang diwajibkan. Jika tidak menyalakan lampu utama di siang hari dipidana dengan pidana kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah).

Belok Kiri Boleh Langsung?
Kalau dulu biker dapat langsung belok kiri meskipun saat itu lampu lalulintas menunjukkan warna merah. Sekarang tidak dibolehkan! Karena menurut UU No. 22 / 2009 Pasal 112, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas. Bagi yang melanggar akan ditilang dan dikenakan denda sebesar 250 ribu rupiah.

Kumpulan Puisi SBY - BOEDIONO

Sumber : Buku Kumpulan Puisi SBY - BOEDIONO
Lonceng Demokrat
Karya : Ahmadi Haruna


CALEG dan MASSA

Pemilu hamil lima tahun
Lahirkan caleg baru,visi dan misi baru dan baju baru
Caleg mengejar massa
Massa lari pontang panting
Caleg menangkap massa
Massa tetap diam
Caleg dekati massa
Massa tetap diam
Caleg membujuk massa
Massa bungkam seribu bahasa
Caleg tawarkan visi misi
Massa tetap bungkam
Caleg gelindingkan janji
Massa tetap bisu
Caleg mencubit massa
Massa tetap diam
Caleg turunkan sembako
Massa mulai mengerling
Caleg merogoh saku
Massa mulai tak diam
Caleg serahkan bingkisan
Massa tak tahan lagi diam
Caleg serahkan amplop
Massa tak diam lagi
Massa tak bungkam lagi
Massa tak bisu lagi
Caleg dan Massa setali tiga uang
Caleg dan Massa antara kursi dan meja makan

Doa Seorang Istri Capres
( Kepada Ibu Any SBY )


Diujung malam
Diatas sajadah tua
Duduk tafakkur
Dikamar mungil
Sepi menikam malam
Air mata jatuh dikebaya
Tanganpun menengadah keatas
Ya, Allah
Beri kekuatan hambamu menghadapi Pilpres
Hindarkan semua fitnah dan huru hara dimasa kampanye
Ya, Allah
Jaga hati simpatisanku yang telah memutuskan
Pilihannya mencoblos nomor urut Dua
Gerakkan hati masyarakat yang belum menetapkan
Pilihannya ke SBY - Berbudi
Ya, Allah
Jangan berikan amanah yang tak dapat dipikulnya
Capaikan segala Visi - Misi dan program aksi
Karena segalanya demi kemaslahatan bangsa
Ya, Allah
Wujudkan Doa dalam puisi ini
Amin

DEMOKRASI

Aku terjebak disebuah ruang
Yang aku tak tahu namanya
Aku tertelungkup disebuah sudut
Yang aku tak tahu namanya
Aku menyeruduk dihirup pikuk manusia
Namun aku lupa peristiwanya
Aku terpelanting disebuah bilik
Yang aku tak tahu penyebabnya
Demokrasi begitu mudah diucapkan
Begitu mudah diperbincangkan
Begitu tajam selisihnya
Demokrasi
Begitu sulit kujamah wajahmu

DEMOKRAT
( Kepada SBY - Berbudi )


Melayang bagai anak panah
Menembus sukma bangsa
Bersemayam dihati warga
Jadi payung dimasyarakat
Menjadi partai pilihan massa
Demokrat
Jangan berhenti gulirkan cinta
Biar cinta tidak tertikam dihati
Jangan berhenti tabur kasih sayang
Biar kasih tidak terkubur sia sia
Demokrat
Kau adalah bulan bagi kami
Maka beri kami harapan
Kau adalah bintang
Maka sinari kami dalam kegelapan
Kau adalah angin
Maka hembuskan kesejukan pada kami
Kau adalah hujan
Maka hapuskan dahaga kami dari terik matahari
Demokrat
Aku cinta engkau

KPU DAN CALEG

Caleg memburu kursi
Massa sembunyikan kursi
Kursi jadi mahal
Partai jadi kurus
KPU tetapkan kursi
Kursi kehilangan kaki
Partai pontang panting
Caleg kepung KPU
KPU tak bisa diam
Panggil pengacara
Panggil polisi
Menjadi kawalan petugas
Petugas kewalahan
KPU jadi tersangka
Angggota KPU dibalik jeruji
KPU riwayatmu kini

KAMPANYE II

Saudara - saudara
Para kader Partai Demokrat yang kami cintai
Mari kita jaga kesatuan dan persatuan
Mari kita kembali lanjutkan perjuangan
yang belum selesai ini.
Hari ini kita berkumpul bersama
Kami yakin semuanya karena ketulusan
Bukan karena Uang bensin
Bukan karena Indo Mie
Bukan Karena paket sembako
Bukan karena baju kaos
Tetapi karena Idelogi Demokrat yang jelas
Karena prestasi Demokrat yang sudah dirasakan
Karena sejumlah perubahan telah dinikmati
Karena kita ingin lebih dari hari ini
Saudara - Saudara
Jangan mau digoda rupiah
Jangan mau dibeli suara anda
Sukuisme bagus
Hubungan emosional perlu
Mendukung sekampung wajar
tamun ujungnya merusak Demokrasi
Saudara - saudara
Contreng SBY - Boediono
Dia punya seonggok cinta
Dia punya sebukit kasih sayang
Saudara saudara
Mari bersama dukung SBY - Boediono
Bukan hanya dibibir namun sampai dibilik TPS

SUARA

Suara itu tersembul dari mulut
Suara itu bertemu gendang telinga
Suara itu keluar dari rongga hati
Suara itu berkeliaran di mall - mall
Suara itu adalah pernyataan sikap
Suara itu semakain tak jelas
Suara itu semakin liar
Suara itu tiba - tiba disegel polisi
Suara kita harus dijaga
Suara kita harus punya nilai
Suara kita adalah suara Demokrat
Suara kita adalah suara SBY Berbudi

JANGAN TIKAM BULAN

Jangan tikam bulan
karena dia pemberi cahaya
Jangan lukai bulan
karena dia adalah harapan kita
Jangan marah pada bulan
karena dia akan sembunyi
Jangan fitnah bulan
karena dia punya bintang
Bulan dan bintang
Semuanya kita butuh




Pendidikan yang tak melupakan anak

Bicara tentang pendidikan, banyak orang terpaku hanya pada unsur akademis yang menjadi tolak ukur dalam kemajuan intelektualitas anak didik. Padahal ada banyak hal yang terkait di dalamnya, mulai dari perkembangan psikologis anak hingga pembentukan pribadi yang berkualitas.
Hal ini tak lepas dari definisi pendidikan itu sendiri, yaitu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Itu sebabnya, pendidikan tak hanya dilihat dari segi pendidikan formalnya saja, tetapi juga perkembangan di bidang lain yang dialami anak. Keseimbangan inilah yang menjadi kartu As bagi setiap orang untuk menjadi seorang yang berkualitas.
Pada dasarnya, setiap anak membutuhkan stimulus untuk perkembangan dirinya sebagai manusia. “Stimulus itu merupakan pendidikan yang tentu saja harus disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologi dan kebutuhan anak. Sebagai contoh, anak usia2-3 tahun belum mempunyai kemampuan motorik halus yang terkontrol. Alangkah tidak tepat bila kita memaksakan mereka untuk belajar menulis, maupun hanya membentuk huruf-huruf dasar,” ujar Anna Surti Ariani, Psi, psikolg anak dan keluarga dari Medicare Clnic.
Pasalnya, masih menurut Anna, yang dibutuhkan anak sebelum belajar membaca adalah pengenalan bentuk. Pada usia tersebut, bentuk lingkaran, segitiga, dan bujur sangkar bisa mulai diperkenalkan. Memasuki usia 3-4 tahun, bisa diajarkan yang lebih sulit, seperti bentuk segi lima atau segi enam. Mengapa demikian? Bentuk-bentuk inilah yang menjadi dasar membuat sebuah huruf. Bentuk lingkaran, misalnya, sama halnya dengan huruf “O”, bila diberi garis sebelah kiri agak panjang, akan membentuk huruf “P”, demikian seterusnya.
Hal ini diamini oleh A Budi Wiryawan, Head of Discipline santa laurensia, “Kami tidak mewajibkan anak di jenjang taman kanak-kanak (TK) untuk mampu membaca dan menulis. Di sini kami tidak tergesa-gesa dalam mendidik anak. Seperti di jenjang TK, kami lebih mempersiapkan anak mempunyai kesiapan belajar ke SD, sehingga lebih ke pembentukan mentalitas anak. Bukan mengajar baca-tulis seperti yang selama ini menjadi tolak ukur dan keinginan banyak orang tua. Di SD kelas 1, pelajaran itu baru di berikan karena secara psikologis anak sudah mampu memahaminya,” ujarnya.
Mendidik anak di usia ini hingga duduk di kelas dua atau 3 SD, masih ditekankan adalah tumbuhnya kesenangan anak untuk belajar, rasa ingin tahu, serta berani berdialog dan mempunyai rasa kepercayaan diri yang cukup untuk menyampaikan sesuatu. Pasalnya, di usia tersebut, kemampuan anak untuk menangkap hal yang bersifat abstrak dan berupa rumusan konseptual belum siap. Membawa hal-hal yang bersifat kongkret ke abstrak bukanlah hal yang mudah. Baru pada kelas 3-4 SD, mereka baru memahami arti aturan, abtraksi, dan lain-lain. Bila tidak dilakukan dengan hati-hati, justru bisa menimbulkan kesalahan konsep yang bisa berakibat fatal pada anak, yang memungkinkan anak menjadi sulit untuk mengembangkan ilmunya lebih lanjut.
Lagipulah, tamba Jeane Budiwati Tjandiagung, Head of Research & Development Santa laurensia, pendidikan yang mampu berjalan selaras dengan perkembangan psikologi anak akan memberi hasil yang lebih maksimal. Jika mendidik anak tidak sesuai dengan perkembangannya akan menjadi percuma, karena mereka justru akan merasa stres dan depresi.
SISWA SEBAGAI FOKUS
Penyelarasan antara pendidikan dan perkembangan psikologi anak tersebut tidak akan berjalan lancar bila tidak diimbangi dengan metode pembelajran yang tepat. Meski sejak dulu pendidikan di fokuskan pada anak didik, namun metode pembelajaran yang di ciptakan justru lebih fokus pada guru, di mana anak diajarkan duduk diam di dalam kelas. Seorang anak yang mampu mengikuti gurunya dengan cepat, dianggap sebagai anak berbakat.
Padahal, seperti yang diungkapkan oleh Purborini Sulistyo, Curriculum Development Head Central School, setiap anak memiliki kondisi yang berbeda. Hal ini pun menuntut adanya metode pembelajaran yang kaya dengan variasi. Sebagai gambaran, ada anak yang lebih peka terhadaphal-hal yang bersifat musik, melalui visual, atau adapula anak yang tak bisa mengerti bila hanya membaca.
“Bakat setiap anak pun berbeda. Tinggal kami sebagai institusi sekolah menggali dan mengasah bakat yang di miliki tersebut, agar anak bisa tumbuh menjadi manusia yang bahagia bagi dirinya sendiri,” tambah Martinus Tukiran, Chief Operating Officer Central School.
Dengan cara lain, Antarina SF Amir, Managing Director High Scope Indonesia, menerangkan bahwa hal itu juga menyangkut dua paradigma besar dalam dunia pendidikan, yaitu paradigma behavioristik dan paradigma konstruktivitis. Cara-cara yang fokus pada guru cenderung mengikuti paradigma behavioristik, sedangkan yang berfokus pada siswa mengikuti paradigma konstruktivitis. Pada paradigma yang disebut terakhir, pembelajaran di lakukan secara kreatif dan produktif, di mana siswa menjadi penemu. Guru bukan satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan di kelas, anak bisa di beri kemandirian untuk belajar dengan memanfaatkan beragam sumber belajar yang memadai, diberi peneguhan dan motivasi.
Bertolak dari hal tersebut, kini semakin banyak dikembangkan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada perkembangan siswa atau lebih di kenal dengan sistim student center. Di sini setiap siswa dituntut untuk aktif di kelas, dalam diskusi, maupun dalam pembentukan konsep mereka masing-masing. Jadi, murid lebih bersikap aktif dan guru bertindak fasilitator.
Dengan diarahkan untuk membentuk pemahaman konsepnya sendiri, sifatnya akan lebih bertahan lama bila dibandingkan dengan cara didikte. Cara ini cukup efektif untuk terus menumbuhkan motivasi dan kemauan, serta rasa ingin tahu yang besar kapan sampai kapanpun, sehingga pengetahuan tidak pernah mandek. Beda halnya bila anak lebih banyak dijejali dengan berbagai hal,namun tidak memahaminya secara mendalam.
Dalam metode pembelajaran ini, teori multiple intelligences menjadi salah satu landasan yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar sehari-hari. Yang dimaksud multiple intelligences itu sendiri merupakan pengembangan delapan area kecerdasan, yaitu logika, kata, musik, gerak, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, alam, dan naturalis.
Teori tersebut pun dimasukkan ke dalam bentuk-bentuk pembelajaran yang diterapkan di setiap mata pelajaran, melalui permainan, dramatisasi, diskusi, maupun percobaan di labolatorium. Misalnya, saat mempelajari bahasa Indonesia, anak dituntut membuat puisi, membacakannya di depan kelas, membuat drama, dan sebagainya. Membuat puisi merupakan bagian dari intrapersonal dan emosi, proses membuat drama bersama teman adalah bagian dari interpersonal dan gerak, dan seterusnya.
Perubahan paradigma ini tentu saja harus selaras dengan pemahaman orangtua dari setiap peserta didik. Bila tidak, anak justru menjadi korban karena bingung untuk menerapkan nilai yang berbeda. Kesadaran ini diperlukan untuk memberikan keseimbangan dan proses tumbuh-kembang anak yang optimal. Seperti yang ditekankan oleh Wiryawan, setiap anak diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang utuh.

Sumber : Kompas



 

Suara Hati

Pendidikan. . . .Artikel. . . . Politik . . . . Berita. . . . Puisi. . . .

Contact